Allah yang Woles

Ini curcol lagi ya, sekaligus wanti-wanti supaya tidak melukai hati saya, hahaha. Pertanyaan yang sebetulnya menyebalkan saya adalah pertanyaan seperti “Romo sibuk, gak?” atau “Romo ada kerjaan gak sore ini?” Tentu saja dengan mudah saya bisa menjawabnya dengan “sibuk” atau “ada”, dan kalau dilanjutkan dengan pertanyaan “Sibuk apa?”, dengan gampang pula bisa saya jawab “Mau tauuuu aja.”

Saya tentu tidak hendak menyamakan diri dengan Tuhan. Akan tetapi, pertanyaan macam itu tadi kepada Tuhanlah yang membuat dunia ini ancur ya ancur. “Tuhan, Kamu sibuk gak?” Apalagi kalau pertanyaan itu dijawab sendiri dengan kesimpulan “Oh, ternyata Tuhan sibuk. Ia tak pernah mendengarkan doaku. Ia tak menunjukkan alasan rasional yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa Dia memang ada.”

Tuhan tak pernah sebegitu sibuknya atau galfok sehingga seakan-akan Dia absen, tak mencintai ciptaan-Nya. Sebaliknya, Ia mencintai setiap orang sedemikian rupa seakan-akan orang itu jadi satu-satunya objek cinta Tuhan itu! Sekali lagi, problemnya bukan ‘di luar sana’, melainkan justru pada orangnya sendiri yang tak mampu mencinta, entah mencintai dirinya sendiri atau mencintai Tuhan. Mau penjelasannya?

Mari kita becermin pada dua bacaan hari ini. Salah seorang sohib saya memakai istilah psikologi khalayak. Pada bacaan pertama ditunjukkan bagaimana khalayak mengelu-elukan dua orang, Saul dan Daud. Pujian khalayak itu jadi perbandingan penilaian dua orang itu dan menimbulkan kemarahan terpendam dalam diri Saul, karena kepada Daud diperhitungkan jumlah yang jauh lebih besar, lebih hebat. Begitu pula halnya dalam bacaan kedua dikisahkan bagaimana khalayak memburu Yesus dari Nazaret dan jika dibandingkan dengan akhir hidup Yesus, khalayak itu jugalah yang bersuara supaya Yesus dibunuh.

Kok isa ya semula berbondong-bondong mengelu-elukan dan memburu Yesus tapi akhirnya malah ikut menghabisi nyawanya? Semula ngefans kok njuk mencaci maki? Kok isa Saul merasa keki kepada khalayak yang mengelu-elukan Daud lebih dari dirinya?

Seorang uskup yang tidak mau menyebutkan namanya pernah menyodorkan renungan kurang lebih begini. Kita itu bisa jadi memandang khalayak di sekitar Yesus itu sebagai kumpulan orang galfok. Akan tetapi, kita nyatanya merasa diri cukup, gak butuh sosok penyelamat karena kita punya teman, punya uang. Untuk soal sakit, ada rumah (kok) sakit. Untuk depresi, ada obatnya. Untuk kesepian, ada kota dengan sudut yang senantiasa ramai. Untuk problem teknis, ada IPTEK. Kalau konflik, ada pengadilan. Anehnya, masih ada juga kan orang yang punya uang, teman, rumah sakit, pengacara, jabatan, mencari sesuatu pada dukun, misalnya? Pada akhirnya, kita merasa bahwa kekuasaan apapun dalam diri kita tidaklah cukup. Tak puas dengan uang, dengan rumah macam begini, dengan kendaraan model begini, dengan jabatan seperti ini, dan seterusnya.

Orang, termasuk generasi zaman now memang butuh penyelamat dan sosok penyelamat itu tak terletak pada hal-hal yang immediate, melainkan pada Allah yang langgeng, yang setiap kali menghembusi kita dengan nafas cinta-Nya. Problemnya, seperti di awal, kita mau menyetir Allah seturut agenda kita sendiri: kita tak mau rendah hati untuk declare, membuka diri dahulu dan membiarkan Allah yang menilai dan menentukan pilihan-Nya.

Tuhan, jadilah pada kami seturut kehendak-Mu. Amin.


KAMIS BIASA II B/2
18 Januari 2018

1Sam 18,6-9;19,1-7
Mrk 3,7-12

Posting Tahun A/1 2017: Ssst Jangan Brizieq
Posting Tahun C/2 2016: #KamiTidakTakutNaksir
Posting Tahun B/1 2015: Yesus Rada-rada Munafik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s