Rolasan

Kalau saya mengajari orang Inggris bahasa Jawa, saya akan mengatakan kepadanya bahwa bahasa Jawa untuk lunch adalah rolasanRolas sendiri berarti dua belas, tetapi orang bisa rolasan jam 11 maupun jam 1 siang. Kalau malam, bukan rolasan, melainkan waduk ing bedhug bengi

Bacaan hari ini mengisahkan rolasan ala Yesus dari Nazaret, bukan dalam arti makan, melainkan panggilan. Yesus bukan sosok pribadi yang ngotot sebagai single fighter mengejar kesalehan pribadi. Akan tetapi, ia juga bukan orang yang berusaha menggelembungkan jumlah followers. Ini bukan soal popularitas yang melambungkan namanya ke seantero jagad. Ia memilih rolas murid, yang lebih dari sekadar followers karena waktu itu bukan zamannya twitter, halah….

Setiap murid itu dipilih sebagai bagian proyek Yesus dalam kebebasan mereka. Setiap murid sudah punya sifat manusiawi dan ilahi. Maka dari itu, panggilan kemuridan itu sebetulnya berlangsung dalam dua arah meskipun kisahnya mengindikasikan yang memilih para murid adalah Yesus. Ini soal relasi, bukan menjadikan pihak yang satu sebagai objek keinginan pihak lainnya. Itu mengapa, para murid punya ruang kebebasan yang penuh dan dengan demikian, bahkan pengkhianatan pun dimungkinkan.

Ini (lagi-lagi) curcol. Tadi malam terjadilah kesurupan massal di suatu tempat di luar ring road kota tempat saya tinggal dan datanglah saya ke sana dengan harapan bisa melihat orang kejang-kejang, menggelepar-gelepar dan mendesis tak karuan. Namun apa daya, sampai di sana saya tinggal melihat anak-anak yang unyu-unyu yang mestinya kelelahan karena program training yang mereka ikuti. Orang pinter sudah didatangkan untuk mengusir roh-roh yang katanya merasuki anak-anak itu.

Saya tidak punya problem dengan orang-orang pinter, tetapi yang merisaukan saya justru anak-anaknya sendiri yang plonga-plongo menonton orang pinter meruwat seorang anak yang katanya bermasalah. Ini seperti kerjanya followers yang menantikan sepak terjang orang yang diikutinya. Padahal, kalau saja mereka ini jadi murid, mereka tak akan cuma nonton, tapi berdoa bagi temannya, berdoa bagi mereka sendiri, berdoa supaya kekuatan Allah sendiri merasuki mereka.

Lha emangnya Romo berdoa po, kan juga nonton? Hahaha…. Saya berdoa. Isinya pasrah (mungkin karena jengkel juga), biarlah orang pinter ditonton dan semoga pelan-pelan Tuhan memberi hidayah. Setelah itu, saya pulang tanpa pamitan, hahaha…. (setannya pulang gak pamitan).

Ya Tuhan, mohon kekuatan supaya kami mampu menjadi murid-murid-Mu lebih daripada jadi followers tukang klik. Amin.


JUMAT BIASA II B/2
19 Januari 2018

1Sam 24,3-21
Mrk 3,13-19

Posting Tahun A/1 2017: Sukurin!!!
Posting
Tahun C/2 2016: Baiknya Cinta Segi Tiga
Posting Tahun B/1 2015: Penangkal Selingkuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s