Penggila Kopi

Dalam sejarah ditunjukkan bahwa ide orisinal tak selalu diterima baik-baik. Mesti ada saja gejolak dengan bumbu-bumbu dari kelompok orang yang fanatik atau fundamentalis atau radikalis (yang biasanya menuduh mereka yang tak setuju dengan sikap itu sebagai kaum liberalis atau laksis). Galileo Galilei, Martin Luther, cuma salah dua contoh mengenai bagaimana ide orisinal dan ide baru mendapat tentangan. Sampai sekarang ini, dengan teknologi yang jauh lebih maju, dinamika itu juga tetap kelihatan: orang lebih suka copy-paste alias salin-rekat apa yang sudah ada daripada mencoba memikirkan sesuatu yang baru.

Dalam teks bacaan hari ini, yang cuma terdiri dari dua ayat itu, ditunjukkan bagaimana khalayak lagi-lagi berbondong-bondong mengikuti Yesus yang masuk ke sebuah rumah. Sedemikian banyaknya orang yang berkumpul sampai-sampai untuk menyuapkan sepotong roti ke mulut pun susah. Eh, enggak dinggak dibilang gitu. Mungkin lebih masuk akal bahwa permintaan sedemikian tingginya sehingga bahkan kebutuhan biologis untuk makan itu sulit dipenuhi.

Bahwa orang mengesampingkan kebutuhan biologis tentu bukan ide baru pada zaman Yesus, juga zaman now. Yang selalu baru ialah bahwa pengesampingan kebutuhan biologis itu dilandasi oleh niat memuliakan, memulihkan, memberdayakan mereka yang tersingkir, lemah, tak berdaya. Akan tetapi, tentu saja ide ini bisa jadi basi ketika orang cuma salin-rekat: pokoknya asal membantu orang lemah, miskin, tersingkir, gak makan juga gak apa. Tidak dikisahkan pada teks itu dan teks selanjutnya bahwa Yesus sakit maag, asam lambung, diare dan seterusnya karena terlalu sibuk membantu orang tersingkir.

Lagi, ungkapan Jawa ini gampang ditirukan, tapi praktiknya ya susah karena membutuhkan pembedaan roh tingkat dewa: ngono ya ngono ning aja ngono. Kesusahan itu bukannya tak terpecahkan kalau orang senantiasa kembali pada proyek Allah yang tertuang dalam hatinya dengan senantiasa bermawas diri: apa yang sudah kucari, apa yang sedang kucari, apa yang akan kucari. Pemuliaan diri atau pemuliaan Yang Lain. Pemuliaan diri adalah model salin-rekat dan ini kecenderungan orang segala zaman, tergila-gila pada apa yang yang sudah rutin, tinggal kopi saja gampang: penggila kopi. Pemuliaan Yang Lain senantiasa dalam pencarian terus, kritik tak kunjung usai, supaya orang semakin terbebaskan dari kepentingan diri yang tak relevan bagi kesejahteraan bersama.

Ya Allah, mohon kebeningan hati dan budi supaya kami mampu menemukan cara-cara baru untuk memuliakan Engkau dalam pelayanan kepada sesama. Amin.


SABTU BIASA II B/2
20 Januari 2018

2Sam 1,1-4.11-12.19.23-27
Mrk 3,20-21

Posting Tahun A/1 2017: Ayo Belajar Memanah
Posting Tahun C/2 2016: Matinya Nurani Wong Edan
Posting Tahun B/1 2015: Dasar Orang Gila!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s