Jengkel Aku!

Ingatkah Anda bahasa tubuh Jokowi pada sesi pernyataan akhir dalam debat pertamanya? Masih punya waktu cukup untuk menyampaikan apresiasi, tetapi ketika diingatkan untuk menyampaikan apresiasi, ia mengatakan tidak. Ia melinting kedua lengan bajunya. Saya bukan ahli bahasa tubuh, tetapi sebagai orang-antara-Solo-dan-Jogja, saya bisa berempati dengan apa yang berkecamuk dalam dirinya. Ungkapan jakarténya kira-kira “Dah kagak usah banyak bacot, gue mau kerja bangun bangsa. Males banget denger retorika janji normatif orang yang ngebet pengen jadi presiden!” Itu bukan ungkapan Jokowi. Nanti saya kembali ke situ, tetapi mari lihat ada apa hari-hari ini.

Bersamaan dengan polemik mengenai pembebasan bersyarat ABB dan menjelang bebas murni BTP, teks bacaan hari-hari ini menyinggung soal hukum dan relasinya dengan kemanusiaan. Bacaan kemarin menyajikan penegasan bahwa hukum Taurat menjadi relatif terhadap nilai kemanusiaan: (hukum) hari Sabat dibuat untuk manusia, bukan manusia demi hari Sabat; jadi, manusia adalah tuan atas (hukum) hari Sabat. Kalau begitu, hukum sangat bergantung pada nilai yang diusung tuannya. Kalau tuannya korup, hukumnya juga korup.

Ndelalahnya, semalam kami menonton film lawas berjudul Hero yang diperankan Jet Li. Lucu endingnya: The nameless warrior was executed as an assassin but buried as a hero. Bisa saja itu ditafsirkan sebagai ironi kehidupan: orang tahu persis mana yang baik dan benar, tetapi karena tak mau sungguh-sungguh mengorbankan diri, bahkan yang baik dan benar itu disingkirkannya. Selucu-lucunya ending film itu, sekurang-kurangnya penonton bisa melihat bagaimana terjadi pertobatan dan pengampunan. Raja Qin mencium skenario sang Hero yang berkongkalikong dengan para pembunuh legendaris untuk menghabisi dirinya, tetapi setelah dialog panjang yang membuka kesadaran sang Hero akan niat baik Raja Qin, sang Hero mengurungkan rencana dendamnya semula dan kesempatan yang terbuka lebar baginya untuk membunuh Raja Qin dipakainya untuk menegaskan niat baik Raja Qin supaya semua orang berada di bawah satu langit: perdamaian. Apa mau dikata, sang Herolah yang akhirnya mati, bukan Raja Qin yang berniat baik membawa perdamaian bagi semua. 

Mungkin Raja Qin galau sewaktu mesti menjawab tuntutan hukuman mati terhadap sang Hero, sebagaimana Jokowi mungkin galau dengan problem pembebasan tanpa syarat ABB. Akan tetapi, sekurang-kurangnya mereka tahu baik-buruk dan mengambil sikap terhadapnya: mengerjakan yang baik, menjauhkan yang buruk. Ini sangat dasariah bagi orang beriman, sebagaimana taat kepada Pancasila adalah basic bagi warga NKRI. Kalau itu absen, bisa menjengkelkan dan memicu kemarahan orang baik. Teks hari ini menunjukkannya, yaitu ketika Guru dari Nazareth mendapati orang bungkam terhadap pertanyaan “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat: berbuat baik atau berbuat jahat?” Itu menjengkelkan dan membuat marah Guru dari Nazareth (terjemahan Indonesia sih “berdukacita”, meskipun mungkin ada unsur sedihnya juga, tetapi saya curiga terjemahan itu berbias ideologis: guru gak boleh marah).

Sekarang, Anda tahu apa gunanya melinting lengan baju saat berdebat: menang debat cuma menang argumentasi, yang tidak selalu berkorelasi dengan kerja untuk menyatakan kebaikan bagi semua. Orang semestinya mengambil sikap untuk mengerjakan yang baik, menjauhkan yang buruk. Semoga Tuhan membantu. Amin.


RABU BIASA II C/1
23 Januari 2019

Ibr 7,1-3.15-17
Mrk 3,1-6

Posting Tahun B/2 2018: God is cool
Posting Tahun A/1 2017: Perkenalkan Akrasia

Posting Tahun C/2 2016: Otak SNI
Posting Tahun B/1 2015: Kita Mesti Telanjang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s