RIP Tuhan

Anda tahu RIP singkatan dari Rencana Induk Pembangunan dan kalau Anda mendapati banyak tulisan RIP pada nisan di kuburan, itu menunjukkan bahwa akhir dari semua Rencana Induk Pembangunan itu adalah kuburan. Tentu saja, RIP di nisan bukan kependekan dari rencana pembangunan, melainkan Requiescat in Pace (Latin, baca: rekuieskat in pace, artinya semoga dia beristirahat dalam damai) dan kalau itu dilekatkan pada Tuhan, berarti semoga Dia beristirahat dalam damai.

Maksudnya, Tuhan mati karena dibunuh orang semacam Nietszche gitu, Rom? Haisssh, wis to gak usah kenitse-nitsean gitu [soalnya aku ya ora donk 😝]. Kalau mau pakai gaya manusia, dalam Kitab Suci kan juga dikatakan bahwa Tuhan ini beristirahat setelah pegel-pegel menciptakan bumi dengan segala isinya. Itu mengapa Hari Sabat begitu dihormati oleh orang Yahudi. Akan tetapi, teks bacaan hari ini memberi kesan bahwa Guru dari Nazareth itu menempatkan Hukum Sabat di bawah kepentingan manusia, padahal itu konon adalah hukum Tuhan.

Dah saya gak mau ikut-ikutan perseteruan merekalah. Soalnya, poin pentingnya bukan argumentasi mereka, melainkan paham Allah yang hendak mereka bangun. Yang satu bilang, sebagaimana Tuhan itu punya jeda, manusia mesti memberi jeda yang didedikasikan untuk menyembah, memuji, memuliakan Tuhan. Hari itu mesti disucikan, dibebaskan dari aneka macam kepentingan remeh-temeh manusia. Seakan-akan Allah butuh waktu untuk dipuji. Guru dari Nazareth bilang, Hukum Sabat tadi tetaplah bikinan manusia, maka manusialah tuannya, bukan produk hukum itu sendiri.

Saya sepakat dengan gagasan Guru dari Nazareth itu, tetapi sekarang saya juga bertanya-tanya apakah memang manusia itu bisa sungguh jadi ‘tuan’? Ini bukan lagi soal relasi manusia dengan hukum buatannya sendiri, melainkan soal letak manusia dalam tatanan semesta dan hubungannya dengan Allah yang oleh orang Yahudi digambarkan ‘beristirahat’ pada hari Sabat. Benarkah Allah beristirahat? Tentu tidak, karena bahkan pada hari Sabat tadi, biji bertumbuh, bunga berbuah, buah berbiji #loh. Semesta tidak freezing

Meskipun demikian, dalam arti tertentu, kalau kita lihat manusia sebagai bagian semesta, bisa jadi Allah itu beristirahat karena pada momen itu Ia mendelegasikan proses penciptaan kepada manusia. Alhasil, kalau manusia dapat menjalankan Rencana Induk Pembangunan bikinan Allah tadi, Allah bisa beristirahat dalam damai. Ya tentu ini kiasan, tetapi Anda tahu poinnya bahwa manusia mengambil peran dalam proses penciptaan, tetapi tidak seperti Allah, manusia tak bisa jadi ‘tuan’ atas semesta. Bencana alam menunjukkan bahwa manusia tak pernah bisa menjadi ‘tuan’ atas semesta. 

Ke’tuan’an manusia itu terletak pada kehambaannya kepada Allah untuk mengelola semesta, dan kehambaan kepada Allah itu tidak bisa dimonopoli oleh tradisi agama mana pun. Oleh karena itu, kalau mau membuat Allah RIP, penganut agama mesti mencari bersama-sama jalan-jalan mana yang bisa ditempuh supaya pengelolaan semesta itu tidak membuat bencana, tetapi memperkuat rencana induk pembangunan proyek Allah.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami menemukan jalan-jalan-Mu lewat perjumpaan dengan yang lain. Amin.


SELASA BIASA II C/1
22 Januari 2019

Ibr 6,10-20
Mrk 2,23-28

Posting Tahun B/2 2018: Agama Robot
Posting Tahun A/1 2017: Overdosis Agama

Posting Tahun C/2 2016: Gantengnya Polisi

Posting Tahun B/1 2015: Optimis Tanpa Harapan, Jadi Apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s