Agama Robot

Mereka yang mengisolasi hatinya dari jalan menuju Allah (versodio, ciyeh) takkan mengerti jenis kebahagiaan batin yang menyokong, mengukuhkan, melanggengkan harapan. Ini bukan kata-kata saya, melainkan kata orang tentang apa yang pernah disampaikan Paus Fransiskus yang kemarin diisukan pensiun dini (ya ampun, apa gada cara lain untuk menaikkan traffic sih?). Kalau hati diisolasi, mesti kan jadi kaku ya (bahkan meskipun isolasinya elastis)? Celakanya, isolasi untuk hati ini bisa datang dari lembaga yang semestinya melunakkan hati.

Hukum Sabat bagi orang Yahudi pasti bukanlah hukum ritual. Dalam hukum itu direpresentasikan cara pandang orang Yahudi mengenai kosmos yang sakral. Sabat, atau barangkali Minggu bagi orang Kristiani, adalah ruang-waktu sakral yang jadi peluang bagi orang untuk hidup bersama Allah. Cuma ya itu tadi, momen spesial ini bisa kehilangan sifat spesialnya justru ketika hati orang terkontaminasi, apalagi terisolasi, oleh legalisme, seakan-akan semua hal di dunia ini mesti didasarkan pada boleh tidaknya dibuat.

Memprihatinkan juga sih kalau orang-orang beragama itu, dari bangun pagi sampai tidur lagi, satu-satunya yang dipikirkannya cuma boleh atau tidak melakukan A B C D E. Loh, Mo, apa bukannya memang orang beragama itu mesti mempertimbangkan segala sesuatunya apakah sesuai dengan ketentuan Allah? Bukankah Romo sendiri bilang umat beriman mesti bertindak seturut kehendak Allah? Itu kan artinya sama saja dengan mengatakan orang beriman tak boleh bertindak melawan kehendak Allah!

Eaaaa betul, Anda layak dapat bintang (sebelum dilarang, untungnya saya gak doyan, halah). Akan tetapi, justru itulah yang dipersoalkan hari ini. Kehendak Allah tak pernah bisa diidentikkan dengan proyeksi manusia sendiri. Kalau sampai itu terjadi, ada bahaya robotisasi dalam hidup beragama. Itu seperti orang menciptakan artificial intelligence yang disematkan pada robot. Kulitnya mulus, wajahnya cantik, bisa mendeteksi emosi orang, menyimpulkan apa yang diinginkan manusia, tetapi namanya robot ya tetaplah robot. Ia diciptakan oleh manusia yang memproyeksikan keinginannya.

Nah, orang beragama punya tendensi macam begitu. Mentang-mentang berusaha hidup menurut kehendak Allah, ia lantas menyimpulkan bahwa apa yang dibuatnya adalah kehendak Allah sendiri dan dengan demikian orang lain juga mesti membuat hal yang sama. Kalau tidak begitu, berarti mereka itu kafir atau pagan.
Blaik, apa gak sontoloyo itu orang beragama macam itu? Itu sontoloyo, bukan karena yang dibuatnya jelek, melainkan karena ia mereduksi kehendak Allah sebagai hasil artificial intelligencenya! Tak beda dari orang yang lebih senang hidup dengan robot daripada orang lainnya. 

Alasannya tentu jelas: robot bisa diminta apa saja, diperintah apa saja, diperlakukan semau orangnya. Saya kira Allah bukan sosok macam itu, baik sebagai robot maupun pencipta robotnya. Manusialah yang menciptakan robot, menciptakan agama, tetapi dengan sontoloyonya mengklaim itulah Allah. Dalam ekstrem lain digambarkan ilustrasi bergambar, yang sayangnya saya tak menemukannya lagi: orang memotong pohon apel, memakai kayunya untuk membangun patung dewa, dan menyembah-nyembahnya sembari memohon supaya diberi buah apel.

Ya Allah, jauhkanlah hati kami dari isolasi yang mengekang kebebasan dan imajinasi kami untuk mencintai-Mu secara lebih sungguh daripada sekadar rutin menjalankan kewajiban. Amin.


SELASA BIASA II B/2
16 Januari 2018

1Sam 16,1-13
Mrk 2,23-28

Posting Tahun A/1 2017: Overdosis Agama
Posting Tahun C/2 2016: Gantengnya Polisi

Posting Tahun B/1 2015: Optimis Tanpa Harapan, Jadi Apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s