Copy & Paste Faith?

Boleh percaya, tidak pun boleh: rupanya perilaku religius saleh tidak menjamin keselamatan seseorang atau bahkan kebahagiaannya sendiri. Dari teks bacaan kedua hari ini diperoleh kesan bagaimana Yesus sebagai guru dipermasalahkan karena ia tidak mempraktikkan puasa sebagaimana diajarkan kepada murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi. Si Yesus ini cuma memberi tanggapan dengan ungkapan figuratif yang bagi orang zaman now kiranya bikin roaming: puasa itu berlaku untuk mereka yang tidak sedang bersama-sama dengan mempelai. Ra cêtha babar blas! Apa hubungannya, jal, pesta pernikahan sama praktik religius? Mbohaku ya ora dhonk.

Meskipun demikian, menurut penerawangan saya, Yesus itu seperti mau omong bahwa yang menyucikan hati dan membersihkan hidup orang beriman bukanlah praktik hidup religiusnya, praktik yang bisa ditirukan oleh munyuk-munyuk atau kirik-kirik. Pernah lihat kirik berperilaku seakan-akan ia berdoa, bukan? Atau kalau itu kasar, pernah lihat seorang anak balita memimpin ibadat-ibadatan? Ini semacam salin-rekat (copy-paste) iman. Mungkinkah?
Yang menyucikan hati dan membersihkan hidup orang beriman ialah sikap dasarnya untuk menerima Sabda Allah sebagai mempelai tadi. Nah, balik lagi deh ke ungkapan figuratif yang aneh tadi.

Biar gak terdengar aneh-aneh amat, mari lihat teks bacaan pertamanya. Ini cerita tentang raja Saul, pendahulu Daud, yang membiarkan rakyatnya menjarah kekayaan kerajaan Amalek yang ditumpasnya. Mandat Tuhan jelas, supaya Saul menumpas orang-orang biadab itu, akan tetapi malah Saul menawan raja Amalek dan rakyat Saul sendiri merampas kekayaan orang Amalek [lha ya janjané kalau perang gak papa toh ya, haha]. Saul berdalih: bukankah rakyatnya itu memilih hewan-hewan rampasan yang terbaik untuk dijadikan kurban persembahan bagi Allah? Samuel, utusan Allah, menegur keras si Saul: Apakah Tuhan itu berkenan pada kurban bakaran dan kurban sembelihan sama seperti pada tindak mendengarkan suara Tuhan sendiri?

Itulah. Yesus sadar betul bahwa kebahagiaan dan keselamatan adanya dalam hati orang, dan bukannya dalam praktik-praktik eksternal. Maka, satu-satunya alasan untuk ribut mengenai praktik-praktik eksternal ialah apakah keributan itu semakin membawa orang kepada hati yang mendengarkan Sabda Allah sendiri. Apa lacur, tak sedikit orang beragama yang meributkan praktik eksternal itu karena membela kepentingan seragam dan identitas eksternal. Orang lebih risau pada definisi pakaian liturgi daripada intensi murni dari hati. Orang jauh lebih perhatian pada ritual agama daripada dimensi sosial agama.

Lha njuk apa ya orang beragama tak memperhatikan ketepatan identitas eksternal sih, Mo? Mosok ya orang bisa seenaknya saja dalam menjalankan ritual agama?
Sik sik sik, yang bilang bahwa orang bisa seenaknya dalam menjalankan ritual dan tak peduli identitas agama itu juga siapa toh? Saya cuma bilang, kalau ritual agama itu jadi jauh lebih penting dari dimensi sosial agama, saya jamin, agama itu tak membawa keutuhan hidayah. Juga dalam membangun identitas eksternal, orang beragama semestinya berangkat dari hati yang penuh cinta karena di situ Sabda Allah bertengger
.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami tak berpaling dari Sabda-Mu dalam hati kami. Amin.


SENIN BIASA II B/2
15 Januari 2018

1Sam 15,16-23
Mrk 2,18-22

Posting Tahun A/1 2017: Ahok, Saya Tersinggung!!!!!
Posting Tahun C/2 2016: Let’s Kill Jesus
Posting Tahun B/1 2015: Ngapain Juga Puasa?

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s