Ahok, Saya Tersinggung!!!!!

Ahok itu pancen asem tenan og! Saya meluangkan waktu untuk menonton rekaman debat pilkada kapan hari itu dan tersinggunglah saya. Ini bukan bapernya ababil, melainkan ketersinggungan ‘profesional’ dosen karena ungkapan yang ditohokkan Ahok. Saya tak ingat persis kata-katanya, tetapi kurang lebih begini: membangun manusia tapi gak ada membangun bendanya itu namanya teori dan orang begini ini ya ngajar, jadi dosen di kampus. Aaaasssseeeemmmmm sontoloyo! Saya sebagai dosen tersinggung bahkan meskipun Ahok tidak mengatakan bahwa dosen itu bisanya cuma berteori. 

Kenapa saya tersinggung? Karena kata-kata Ahok itu menyadarkan saya pada kebenaran: pembangunan manusia itu mesti terukur juga oleh keberdayaan fisiknya. Itulah yang saya maksud dengan judul “Makin Suci, Makin Matre” dan juga posting This Is Called SpiritualityKata-katanya itu, sejauh pendengarnya adalah makhluk tahu diri dan bisa mengolah diri, menggelitik orang supaya kembali ke habitat atau posnya masing-masing, dan persis itu jugalah yang membuat saya mengumpat Ahok: dia memang birokrat! Asem tenan, mosok dari sekian juta penduduk DKI, dari sekian ribu birokrat, cuma Ahok dan wakilnya yang maju jadi calon gubernur dan wakil gubernur? Ck ck ck… eh, ada ding birokrat lainnya ya, hehehe… tak usah dibahas perbedaannya.

Saya segera sadar diri, saya bukan birokrat. Saya tidak piawai jadi pejabat administrasi yang menata sekian juta kepala. Gak punya keinginan untuk jadi birokrat juga sih. Birokrat sesungguhnya jadi anjing penjaga supaya kebijakan sistem terealisasi dalam praktik kehidupan. Semakin bersih birokrat, semakin hidup masyarakat cocok dengan kebijakan sistem, dan itulah yang dikatakan integritas: satunya teori dan praktik, kalau katanya A, perbuatannya ya A. Birokrat menjaga integritas itu. Apakah sistem itu bijak atau tidak, tentu di luar lingkup kewenangan sang birokrat untuk menilainya. Ia mesti terbuka pada kritik di luar birokrasi yang menyodorkan pertimbangan lain untuk mengukur suatu kebijakan apakah memang sungguh bijak atau tidak.

Loh, kok bisa bahas sampai sana sih, bukannya ini refleksi dari Kitab Suci ya? Haiya justru itu, Bro’! Teks hari ini omong soal anggur baru vs kantong lama. Anggur baru itu kalau dimasukkan ke kantong lama, kantongnya bakal jebol karena gak bisa melar lagi dan kebuang mubazir deh anggurnya. Perubahan atau kebaruan takkan terakomodasi oleh kantong lama. Tak ada kemajuan hidup yang disokong oleh mentalitas dan kebiasaan lama. Bukan mentang-mentang sudah puluhan tahun begini njuk seharusnya begini terus. 

Kalau begitu, bukankah malah cocok mentalitas akademis atau disiplin militer diterapkan pada birokrasi supaya mentalitas birokratnya terbumbui kecerdasan akademik dan integritas ala militer? Haiya betul, tetapi itu tidak per se berarti tentara jadi birokrat atau dosen jadi birokrat dong. Itu berarti birokrat mengadopsi nilai integritas dan kecerdasan untuk membuat perubahan. Yang bisa mengubah itu ya birokratnya sendiri. Ya itulah, dari sekian ribu birokrat kok yang maju pilkada cuma sepasang! Asem tenan. Lebih baik saya mlipir ke habitat saya dengan sangu dari Kitab Suci dan debat itu: cerdas dan humanis #ehkokmalahsloganuniversitasMales nonton rekaman debat lagi.

Tuhan, mohon itu Kaupunya integritas cinta nan konkret pada kemanusiaan ya. Amin.


SENIN BIASA II A/1
16 Januari 2017

Ibr 5,1-10
Mrk 2,18-22

Posting Tahun C/2 2016: Let’s Kill Jesus
Posting
Tahun B/1 2015: Ngapain Juga Puasa 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s