Overdosis Agama

Tak seorang pun dari kita yang pernah mati karena OD (overdosis), tetapi sekurang-kurangnya tahu bahwa OD itu membahayakan. Itu tak hanya berlaku untuk produk obat fisik, tetapi juga obat nonfisik. Obat nonfisik? Agama misalnya. Ia mengobati tendensi orang untuk percaya kepada sesuatu yang mengatasi dirinya, yang bisa dijadikan pegangan hidup. Tapi ya gitu deh, kalau orang tak sambung dengan yang transenden tadi, alias yang transenden itu cuma ada di kepala, pikiran, utak-atik-otak, ia malah bisa jadi overdosis dalam hal keagamaan.

Contoh overdosis keagamaan itu banyaaaaak sekali. Ini tak cuma terjadi di Timur Tengah atau di luar negeri, tetapi juga di bumi pertiwi ini. Ironisnya, ini gak cuma terjadi dalam ranah agama Katolik, Kristen, Islam, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, dan aliran kepercayaan lainnya, tetapi juga dalam ranah ideologis nonagama: mulai dari sepak bola sampai ateisme. Bagaimana orang bisa menengarai adanya overdosis keagamaan? Ambil contoh saja berita kemarin soal motoran telanjang: orang tak bisa lagi kontak dengan realitas. Ia berada di dunia lain yang tak sambung dengan konteks norma umum yang disepakati masyarakat. Jenis seperti ini mungkin tak begitu parah, tetapi tentu ada jenis lain yang tingkat overdosisnya mengerikan: saat orang sudah menggunakan kekerasan.

Teks bacaan pertama hari ini bicara mengenai harapan sebagai jangkar yang kuat dan aman bagi jiwa manusia. Harapan ini tak bisa direduksi sebagai suatu kepastian ala birokrat yang begitu yakin akan kesempurnaan (sistem) yang hendak direalisasikannya. Kemarin sudah saya sampaikan bahwa evaluasi keseluruhan sistem bukan wewenang birokratnya sendiri. Birokrat butuh feedback dari luar birokrasi, termasuk masyarakat kelas terbawah sekalipun. Kasus Bukit Duri dan pabrik semen di Rembang, misalnya, jadi contoh bahwa birokrasi perlu membuka diri pada konteks hidup masyarakat. Kalau tidak, berarti orang-orangnya sedang mengalami overdosis birokrasi, ideologi, harga diri, kekuasaan, dan sebagainya, atau sebaliknya, hidup orang lain hanya jadi permainan.

Teks bacaan kedua mengindikasikan gejala overdosis keagamaan yang diidap oleh orang-orang Farisi. Mereka mempersoalkan apa saja yang bertentangan dengan hukum Sabat demi rumusan hukum Sabatnya sendiri. Ini tentu tidak eksklusif milik orang-orang Farisi. “Farisisme” juga menghinggapi orang-orang beragama zaman sekarang dengan berbagai wujudnya: memakai dalih agama untuk mengejar kepentingan pribadi atau golongannya sendiri. Itu juga berlaku untuk yang antiagama (tak mau beragama, tak mau menjalankan rekomendasi agama). Poinnya sama, mengejar kepentingan pribadi atau golongan sendiri. Jadinya lebay. Obat yang sebetulnya diperlukan untuk menyembuhkan sakit malah membuat penyakit baru yang bernama overdosis itu.

Kemungkinan untuk menangkal penyakit macam itu terletak pada relasi dengan Pribadi yang dirujuk agama, bukan agamanya sendiri, per se bukan the religions. Dengan Pribadi yang dirujuk agama itu, tak ada orang yang bisa memutlakkan isi kepalanya sendiri karena Pribadi itu juga bekerja melalui isi kepala orang lain. Mau tak mau, orang perlu berdialog untuk bersama-sama menemukan apa yang dikehendaki Pribadi itu. Tanpa komunikasi macam ini, penyakit overdosis sudah tiba di ambang pintu dan orang siap berhalusinasi sampai akhirnya main pukul pentung bacok tembak.

Tuhan, jangan-jangan kami overdosis ya?


SELASA BIASA II A/1
Pesta Wajib S. Antonius, Abas
17 Januari 2017

Ibr 6,10-20
Mrk 2,23-28

Posting Tahun C/2 2016: Gantengnya Polisi
Posting Tahun B/1 2015: Optimis Tanpa Harapan, Jadi Apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s