Optimis Tanpa Harapan, Jadi Apa?

Jengkel gak sih kalau ada orang yang melanggar kesepakatan bersama dan saat ditegur lantas berkomentar, “Aturan hukum untuk manusia ya, bukan manusia demi aturan hukum!” Mungkin orang juga bisa gemes terhadap mereka  yang malah mengutip kata-kata orang gila dari Nazaret, “Anak Manusia juga adalah tuan atas hari Sabat”? (Yang mengutip teks itu mengira bahwa dirinya Anak Manusia…. padahal anak munyuk)

Kesepakatan yang dibuat bersama tidak akan langgeng jika tidak didasari suatu harapan yang melampaui kalkulasi manusiawi belaka. Bacaan pertama menunjukkan betapa kesepakatan yang langgeng baru bisa diandalkan jika sumpah yang mengikatnya adalah janji Allah sendiri. Terhadap janji Allah ini, orang hanya bisa memupuk harapan.

Uskup Jakarta, Mgr. I. Suharyo, pernah mengungkapkan perbedaan antara harapan dan optimisme. Kalau orang berkata, “Saya optimis bisa masuk UGM” atau “Saya optimis bisa selesai mengerjakan proyek selama tiga bulan”, dan jebulnya kenyataan berbeda dari impian atau rencana tersebut, buyarlah optimisme. Optimisme hancur ketika kenyataannya bertolak belakang dengan impian atau rencana.

Harapan tidak bisa buyar karena fokusnya bukan pada kenyataan A, B, atau C. Fokus harapan ialah bahwa jauh hari sebelum kita hidup, sudah ada pribadi yang harapannya seolah-olah hancur dengan kematian yang menjijikkan, tetapi ternyata harapan itu benar-benar menjadi penuh karena pribadi itu mengatasi kematian, yaitu dengan kebangkitan.

Optimisme itu baik, tetapi, tanpa harapan, ia akan hancur, isdet, tak bisa bangkit lagi. Orang boleh optimis membangun hidup berkeluarga, tetapi tanpa harapan, kehancuran keluarga akan menghancurkan hidupnya juga. Dengan harapan, bahkan dalam situasi broken home, orang tetap kreatif melihat kemungkinan-kemungkinan baru untuk membangun hidupnya dan hidup orang lain juga.

Tuhan, Allahku, Engkaulah harapanku satu-satunya. Dengarkanlah aku dan jangan biarkan aku jauh dari-Mu. Kobarkanlah semangatku untuk senantiasa giat mencari wajah-Mu. Berikanlah kekuatan padaku untuk mencari-Mu karena Engkau telah memperkenalkan diri-Mu dan memberiku harapan bahwa Engkau semakin dapat kujumpai setiap saat. Dari Dikaulah asal kekuatanku; di depan-Mu tampaklah kelemahanku. Maka, jadilah sumber kekuatanku dan topanglah aku dalam kelemahanku. Dikaulah yang hendak kupikirkan, kumengerti, dan kukasihi. Kokohkanlah semuanya ini dalam diriku sampai aku berjumpa dengan diri-Mu di rumah-Mu. Amin.


SELASA BIASA II B/1
20 Januari 2015

Ibr 6,10-20
Mrk 2,23-28

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s