Sampah “Pecinta” Alam

Setiap kali kita khawatir akan perkara-perkara duniawi, kita tak mengizinkan kekuatan Allah masuk dalam kelemahan manusiawi kita. Kekhawatiran sendiri pada umumnya membuat wawasan orang menyempit: besok mau makan apa, pakai baju apa, tinggal di mana, dan lain-lainnya.

Ah, omong doang mah gampang (lha makanya, saya omongkan saja). Kalau Romo sendiri mengalami kesulitan pangan-sandang-papan pasti juga Romo khawatir! Hahaha…
Lha sumonggo sampaikan pada penulis Injil atau malah Yesus sendiri, si gila dari Nazareth itu, bahwa kekhawatiran itu sesuatu yang wajar. Ngapain mesti dilarang-larang? Lagipula, pake’ membanding-bandingkan dengan burung pipit dan kembang yang gak kerja tapi bisa hidup dan berwarna indah. Jelas-jelas kita ini manusia  yang punya pikiran, kebebasan, dan lain-lain. Jelas bedalah! Tambah lagi, bukankah ensiklik terbaru Paus Fransiskus itu menyiratkan adanya kekhawatiran akan kondisi ekologi yang semakin memburuk?

Sabar, Brow, jangan dipukul sama rata begitu. Bacaan Injil hari ini masih menyinggung soal akomodasi kehidupan. Kemarin pesannya soal pengumpulan hal-hal duniawi: gak usah berfokus pada hal-hal duniawinya. Hari ini pesannya lebih mengarah pada sikap batin: gak usah khawatir. Kekhawatiran itu nambah stress doang, malah menghambat kinerja orang. Dari sudut pandang teologis ya itu tadi: makin khawatir, makin kita ribut dengan kelemahan diri, makin menutup diri terhadap kekuatan Allah sendiri. Naiflah menangkap ensiklik sebagai ungkapan kekhawatiran. Paus Fransiskus tentu mengerti bedanya orang khawatir dan orang berpengharapan.

Ensiklik tidak dimulai dengan uraian mengenai situasi yang mengkhawatirkan, tetapi dengan paradigma besar bahwa our common home is like a sister with whom we share our life and a beautiful mother who opens her arms to embrace us. “Praise be to you, my Lord, through our Sister, Mother Earth, who sustains and governs us, and who produces various fruit with coloured flowers and herbs. Tak ada nuansa kekhawatiran di situ. Bahwa keadaan ekologi mengkhawatirkan, iya! Akan tetapi, ensiklik tidak ditulis karena rasa khawatir. Ini adalah bagian dari action plan dan perencanaan, prakiraan, estimasi adalah hal-hal yang penting dalam hidup manusia. Hal-hal itu justru mengungkapkan respek terhadap dunia yang didiami banyak orang, bukan hanya yang sudah mendahului, melainkan juga yang akan datang. Diperlukan perencanaan strategis maupun pragmatis.

Akan tetapi, memupuk rasa khawatir dengan aneka rasionalisasi hanya menunjukkan kelekatan hidup orang pada perkara dunia. Ironisnya, karena rasa khawatirlah orang justru mengakumulasi aneka problem absurd. Orang naik gunung untuk selfie dengan tulisan di kertas atau barang lain, setelah dikumpulkan jebulnya ada sekian ton sampah di dekat puncak gunung! Alamak, kalau tidak selfie dengan tulisan kenapa toh? Khawatir tak dianggap gaul, takut gak dipercaya sudah muncak, dan lain-lainnya.

Tentu ada sampah absurd lainnya yang bahkan menyangkut situasi dan orang secara langsung: imigran gelap, manusia perahu, tenaga kerja ilegal, dan sebagainya. Lingkaran kekhawatiran yang menerpa pengambil kebijakan rupanya menciptakan situasi ketidakadilan, bahkan kematian orang. Akan tetapi, lingkaran kekhawatiran dari mereka yang tidak punya tanggung jawab mengambil kebijakan juga membuat kompleks ketidakpedulian.

Ya Tuhan, berilah aku rahmat pengertian supaya semakin mampu mengandalkan kekuatan-Mu lebih daripada aneka kekhawatiranku terhadap perkara-perkara duniawi.


SABTU MASA BIASA XI B/1
20 Juni 2015

2Kor 12,1-10
Mat 6,24-34

Posting Tahun Lalu: Mau Golput Lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s