Let’s Kill Jesus

Kalau Anda bertemu Buddha di jalan, bunuhlah Buddha itu! Demikian anjuran seorang guru zen. Ini bisa diterapkan pada Yesus: kalau Anda bertemu Yesus, orang gila dari Nazaret itu, bunuhlah dia! Saran itu sudah dipenuhi secara literal oleh orang-orang Yahudi pada abad pertama, tetapi susah dipenuhi pengikut-pengikutnya. Tentu karena dia sudah dibunuh secara fisik. Pembunuhannya mesti bersifat nonfisik. Jauh lebih susah.

Pembunuhan nonfisik Yesus ini saya pakai untuk memaknai ungkapan: anggur baru mesti disimpan dalam kantong baru. Ungkapan ini dilontarkan Yesus untuk menanggapi protes pengikut Yohanes Pembaptis dan orang-orang Farisi. Protes pada siapa? Protes pada Yesus. Mereka tahu bahwa murid-murid itu mesti mengikuti guru mereka: mengapa Yesus gak berpuasa seperti orang Yahudi pada umumnya. Eh, jawabannya malah nyinggung-nyinggung mantenan dan ditutup dengan anggur dan kantung baru.

Soal kantong lama dan anggur baru dan sebaliknya sudah dijelaskan dalam posting Ngapain Puasa Segala? Penulis Injil tampaknya mau mengingatkan bahaya bahwa ajaran Yesus diterjemahkan sebagai aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh orang sepanjang masa. Kok bisa gitu? Ya bisalah. Aturan kan dibuat dalam konteks tertentu, dan konteks itu dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Jika aturan itu jadi teks dan konteksnya dibawa ke mana-mana, selama-lamanya, bahkan meskipun dijuluki sebagai Kitab Suci, teks itu mati, bisu, tak relevan, jadi sumber huru-hara. (Kalau mau puyeng sedikit silakan baca soal hermeneutika.)

Kitab Suci semestinya menjadi teks yang hidup. Menjadi umat beriman pun semestinya mampu memandang teks, kewajiban, aturan, hukum, rubrik, secara lebih hidup. Artinya, masalahnya bukan lagi soal klop dengan rubrik atau tidak, taat dengan aturan atau tidak, melainkan apakah penerapan aturan itu sungguh kondusif bagi perjumpaan autentik antara umat beriman dengan pribadi yang diimaninya. Kalau penerapan aturan itu cuma memuaskan kebutuhan psikis orang akan pemenuhan kekuasaan atau kesukaan akan suasana seragam, aturan itu justru gagal menjalankan fungsinya.

Penerapan kaku aturan ini tentu terjadi karena di baliknya ada keyakinan bahwa penerapan itulah yang benar. Keyakinan itulah yang mesti ‘dibunuh’! Bagaimana membunuhnya? Bukan dengan mbalelo, menyangkal kebenarannya, melainkan dengan meninjau ulang pelaksanaannya dengan parameter relasi cinta manten yang disinggung Yesus sebelumnya. Beriman tidak sama dengan menaati aturan. Beriman dalam bahasa kristen adalah soal perjumpaan pribadi dengan Kristus. Perjumpaan pribadi itu bisa saja menghasilkan ‘rumus-rumus’ sebagai panduan bagi orang lain untuk mengalami perjumpaan serupa. Celakanya, ‘rumus-rumus’ itu tidak lagi diterima sebagai panduan, melainkan sebagai sangkar, sebagai penjara, sebagai hukum, pengulangan kata yang tak menyentuh jiwa. Tak ada kreativitas karena ‘kiat-kiat’ tadi diterima sebagai kebenaran akhir. Sulit bukan membunuh sesuatu yang kita terima sebagai kebenaran final? Tidak gampang membunuh Yesus, tak mudah membunuh Buddha.

Dalam bacaan pertama ada ungkapan Samuel yang menyinggung soal itu: mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Saul terpaku pada korban sembelihan dan lupa bahwa yang pokok adalah mendengarkan Sabda Allah sendiri.

Ya Allah, semoga Sabda-Mu tetap hidup dalam batinku. Amin.


HARI SENIN PEKAN BIASA II C/2
18 Januari 2016

1Sam 15,16-23
Mrk 2,18-22

Posting Tahun Lalu: Ngapain Juga Puasa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s