Otak SNI

Beberapa waktu lalu disodorkan kepada kita berita mengenai pembakaran TV yang diproduksi oleh seorang lulusan SD seperti saya ini. Belakangan konon lisensi SNI akhirnya diberikan, tapi apa lacur, sebagian produksinya sudah dihancurkan oleh perangkat sistem yang mungkin otaknya sudah ada label SNI-nya. Yang sekarang mungkin jadi meme adalah seorang yang tangan kirinya lumpuh dan membuat robot bagi dirinya sendiri untuk membantu kerjanya sebagai tukang las. Semoga tangan robotnya tidak dibakar karena belum bersertifikasi SNI.

Teks hari ini menampilkan orang yang lumpuh sebelah tangannya disembuhkan oleh Yesus pada hari Sabat. Ini adalah konflik terakhir Yesus berkenaan dengan hari Sabat. Pada empat konflik sebelumnya, provokasi persoalan disodorkan oleh orang Farisi, ahli Taurat dan kaum Herodian. Pada konflik terakhir ini, Yesuslah yang membuat provokasi. Bagaimana ia melakukannya? Ia meminta orang yang lumpuh tangannya itu berdiri di tengah, menjadi pusat perhatian mereka yang berkumpul di situ. Ini simbolik juga: bahwa Yesus menempatkan manusia sebagai pokok persoalan, mengatasi masalah aturan atau hukum Sabat.

Setelah ia berada di tengah, provokasinya berupa pertanyaan yang tak bisa dijawab baik oleh orang Farisi maupun kaum Herodian. Ia tidak merumuskan pertanyaan “Boleh gak menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat?” karena jawabannya jelas: tidak boleh. Ia mengubah rumusan pertanyaan sehingga pendengarnya ditarik untuk memahami persoalan yang jauh lebih fundamental daripada persoalan yang bisa dijangkau oleh aturan hukum: mana yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat?! Orang yang hatinya kaku dan otaknya berlabel SNI tadi takkan bisa menjawab pertanyaan itu dengan lugas: ya… tapi…. [Selalu ada kata ‘tapi’ untuk membenarkan diri]

Orang Farisi dan kaum Herodian yang sebenarnya juga tidak akur-akur amat itu jadi kompak untuk bersekongkol merencanakan pembunuhan Yesus. Mereka yang tak bisa melihat nilai kehidupan yang mendasari dan melampaui aturan adalah mereka yang hanya tahu satu jalan kemenangan: insting kematian. Insting itu diwujudkan dengan alat kekuasaan untuk mencederai rasa keadilan. Wajah Allah yang hendak dihadirkan Yesus bertentangan dengan insting itu (kebencian, iri hati, kuasa). Ia menampilkan sosok Allah yang menyembuhkan, mengampuni, mendamaikan, mengasihi. Yesus membangun kultur kehidupan dengan compassionate love-nya.

Ya Allah, mohon rahmat kebijaksanaan-Mu sehingga kami mengetahui hukum-Mu yang penuh cinta, melebihi kebencian dan ketamakan akan kekuasaan. Amin.


HARI RABU BIASA II C/2
20 Januari 2016

1Sam 17,32-33.37.40-51
Mrk 3,1-6

Posting Tahun Lalu: Kita Mesti Telanjang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s