Perlu Refill Hidayah

Pada pesta bertobatnya Paulus ini saya teringat percakapan teman sekelas dengan seseorang di sebuah warung tegal dekat IAIN di suatu kota di Jawa Timur. Sebutlah teman saya ini Toni (waton muni?), mahasiswa cerdas nan jenaka, dan seseorang di warteg itu Tono (waton ngono?).
Tono: Lah kamu kok masih di sini? Belum lulus dari IAIN tah?
Toni: Udah, Pak. Sekarang saya sedang kuliah di Jogja.
Tono: Loh sedang kuliah di Jogja kok malah di sini?
Toni: Iya, masih liburan, Pak.
Tono: Kuliah di Universitas mana? Jurusan apa?
Toni: Saya kuliah di [tetot sensor], Pak. Jurusan Studi Agama dan Lintas Budaya.
Tono: (Dengan muka yang sedikit masam langsung omong) Hati-hati kamu masuk Kristen loh. Soalnya kemarin saya lihat video di Youtube ada seorang kiai yang masuk Kristen gara-gara lintas-lintasan itu.
Toni: (Tertawa) Hahaha lemah banget iman kiainya, Pak.
Tono: Lemah gimana? Dia loh kiai, kurang kuat gimana imannya?
Toni: Iya, kalau masih bisa pindah agama berarti kiainya masih labil atau belum menemukan jawaban yang tepat, Pak. Atau, dia masih pusing kayak anak alay yang masih belum menemukan jalan, Pak.
Tono: Itu bukan masalah iman kuat atau lemah Lé, tapi hidayahnya udah dicabut sama Allah!
Toni: Oh berarti sekarang dia dapat hidayah Yesus, Pak, hehehe.
Pak Tono langsung pergi dan sembari berkata,”Hati-hati kamu ya!”
Toni: Terima kasih sarannya, Pak. [nggêmêsin juga ya ini Toni]

Barangkali Tono merepresentasikan Saulus yang begitu berapi-api hendak menghabisi orang-orang lain yang membelot dari agama Yahudi sedangkan Toni adalah simbol pribadi Paulus yang tercerahkan oleh hidayah Allah yang sesungguhnya, yang melihat bahwa persoalan hidup beriman jauh melampaui tempurung agama sehingga ia tak lagi ngotot pada keseragaman agama.

Pengalaman yang dikisahkan Paulus tentulah khas dan barangkali milik dia semata, tetapi pengalaman disentuh Allah dari kedalaman itu bersifat universal dan kalau orang disentuh Allah dari dalam, ia bisa mengambil bentuk ungkapan berbeda dari sebelumnya, termasuk agama. Itu mengapa menurut saya, kepindahan agama hanyalah sekunder. Yang primer ialah pengalaman disentuh oleh Allah itu.

Maka, kalau ada orang yang gonta-ganti agama, satu-satunya alasan saya prihatin bukan bahwa jumlah pemeluk agama ini itu berkurang, melainkan seperti kata Toni, bahwa orang jadi alay yang tak kunjung menemukan jalan bagi dirinya sendiri. Tak punya kepercayaan diri, persis karena belum mengenal diri dengan baik. Nah, kalau orang tak mengenal diri dengan baik, selalu yang disalahkan adalah pihak lain alias ‘di luar sana’: agama, Tuhan, pekerjaan, keluarga, teman, pemerintah, dan seterusnya.

Pertobatan Paulus juga mengajarkan kepada semua saja bahwa Allah tak pernah lelah menantikan orang klik dengan jalan-Nya; persoalannya ialah bahwa orangnya sendiri mudah lelah untuk klik dengan jalan-Nya. Baru kena masalah sedikit lantas reaktif, bosan, merasa tak diperhatikan, merasa agama membosankan (padahal tak pernah baca Kitab Suci, tak pernah mau mengerti), gelap mata, pindah agama, pindah gereja, pindah negara, pindah nyawa….

Ya Allah, mohon stamina rohani supaya kami mampu menemukan jalan-Mu bagi hidup kami masing-masing. Amin.


PESTA BERTOBATNYA S. PAULUS
Kamis Biasa III B/2
25 Januari 2018

Kis 22,3-16
Mrk
16,15-18

Posting Tahun 2017: Adakah Agama Kafir?
Posting Tahun 2016: Jangan Mengobjekkan Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s