Terang Bulan

Kalau orang beragama mau sungguh-sungguh mengikuti kehendak Allah, ia mesti keluar dari diri sendiri dengan keberanian dan belas kasih: tidak terus tertutup pada referensi dirinya. Dalam KBBI Daring memang belum tercantum kata autoreferensial tapi ini kira-kira kata sifat yang hendak menunjuk pada tindakan orang mengacu pada diri, kepercayaan, agama, atau pemahaman sendiri. Ungkapan tadi, tentu sudah saya pelintir sedikit, disampaikan Paus Fransiskus di hadapan para kardinalnya (semacam wakil Gereja Katolik di setiap negara di dunia ini) sekitar lima tahun lalu.

Ada saja orang beragama yang berpikiran bahwa dirinya adalah pembawa terang kebenaran, tetapi lupa bahwa terang yang dibawanya hanyalah laksana terang bulan (bukan merk toko atau jenis makanan). Orang macam ini berhenti jadi mysterium lunae (bahasa Latin, bacanya misterium luné, artinya misteri bulan, kayak judul film): terang yang dibawanya ialah pancaran terang sesungguhnya dari matahari. Kalau orang beragama lupa diri, ia membangun suatu agama dunia yang hidup dalam dirinya sendiri, dari dirinya sendiri, dan bagi dirinya sendiri, bahkan Tuhan seakan-akan milik agamanya sendiri. Wis pè’ên kabehuntalên dhéwé (milikilah semua dan makanlah sendiri)!

Bacaan hari ini masih kelanjutan bacaan kemarin. Membangun rumah bagi Tuhan, mengunci-Nya di kuil, gereja atau apalah, sebetulnya merupakan bentuk lain ateisme. Lah, Romo ini melawan pembangunan tempat ibadat dong! Tidak, saya mah mendukung-dukung saja tempat pelaksanaan ritual apapun seturut agama masing-masing, tetapi mohon dengan amat sangat, dengan segala kerendahan hati, supaya Tuhan tidak dikancing di tempat sakral itu! Tuhan tak bisa dimasukkan dalam container seperti tontonan media bisnis yang memasukkan jin tuyul ke galon air mineral, hahaha… [Kok saya masih belum bisa move on dari kisah anak-anak yang kesurupan massal beberapa waktu lalu ya? Benar kata sohib saya lulusan Oxford University: yang begitu itu cukup disumpel dengan kaos kaki bau, nanti setannya ngeloyor sendiri.]

Tuhan tak bisa direduksi, dibatasi oleh ruang tertentu. Maka, biarkanlah, kalau terpaksanya dibuatkan rumah, Dia keluar bersama Anda, merambah aneka ruang dan menyucikan ruang itu bersama Anda dan membuahkan maslahat bagi sebanyak mungkin warga dunia. Lah, bukannya agama Kristen itu mereduksi Allah pada sosok manusia Yesus, Mo? Asudahlah, saya tak hendak mengobjekkan Tuhan, dan memahami cara pandang Kristen tentu tak sesederhana itu karena Allah dalam kristianitas adalah Allah-dalam-relasi (itu mengapa nongol paham Tritunggal). Saya bukan pembela agama (termasuk Kristen atau Katolik) karena memang dalam sejarah agama senantiasa ada tendensi ironis untuk membunuh Tuhan, mempertuhankan agama.

Peristiwa Yesus dibunuh bangsanya sendiri justru jadi contoh bagaimana mereka membunuh Allah. Ini bukan soal saya menyamakan Yesus dengan Allah, sama sekali tidak, melainkan soal bagaimana orang beragama pada zaman Yesus hendak membunuh paham Allah yang sebetulnya malah cocok dengan pernyataan Allah yang disampaikan dalam bacaan pertama: Dia tak pernah tinggal di rumah, Dia selalu mengembara. Kalau Allah saja mengembara, mosok penyembah-Nya malah mau narsis bin lupa diri bahwa dia cuma punya terang bulan?

Ya Allah, mohon rahmat kerendahan hati terang bulan. Amin.


RABU PEKAN BIASA III B/2
Peringatan Wajib S. Fransiskus dari Sales
24 Januari 2018

2Sam 7,4-17
Mrk 4,1-20

Posting Tahun C/2 2016: Hidup Itu Sulit, Mati Gampang
Posting Tahun B/1 2015: Tiga Jenis Presiden

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s