Tuhannya Orang Gila

Ada beberapa pengertian mengenai judul posting hari ini, tetapi sumonggo mau memakai pengertian yang mana karena memang yang penting bukan judulnya, hahaha. Bisa jadi orang beriman itu melakukan hal-hal yang gila, bisa jadi orang gila diam-diam berelasi erat dengan Tuhan yang sesungguhnya, bisa jadi Tuhan itu orang gila [loh Tuhan kok orang?]. Pokoknya, mari belajar dari bacaan-bacaan hari ini.

Pernyataan yang bisa ditafsirkan sebagai kesintingan penuturnya ialah pernyataan yang dilekatkan pada mulut Yesus: Memangnya kamu kira siapa ibu dan sodara-sodaraku itu sih, Saudara-saudara? Mereka itu ialah yang melakukan kehendak Allah. Wis ra sambung babar blas. Pantaslah, bahkan roh jahat pun menganggap dia kesurupan Beelzebul penghulu setan! 

Tapi ya memang konon begitulah salah satu kerja roh jahat: mengekstrem-ekstremkan yang biasa saja. Sebetulnya biasa juga kan dituturkan dalam cerita bagaimana seorang raja memberikan hadiah kepada pemenang sayembara: yang laki-laki dijadikan istri putrinya, sementara yang perempuan dijadikan istrinya sendiri #eh…. dijadikan saudara atau anaknya sendiri. Ini jelas persaudaraan yang basisnya bukan relasi darah, melainkan sayembara dan niat baik (atau jahat) si pemberi sayembara (sepatu, misalnya). Mosok begitu saja njuk disebut sebagai kerja penghulu setan, apalagi yang basisnya kehendak Allah?

Tapi sudahlah, kita bergeser pada bacaan lainnya yang menyajikan seorang raja yang berjoged ria sebagai bagian dari ritual doanya. Raja ini bernama Daud, dan dia sekaligus menjalankan fungsi imam untuk berdoa memuji Tuhan. Doa bagi Daud adalah pengenalan akan kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya, memuji-Nya, bergembira karena-Nya. Ini adalah sosok Tuhan nomaden, sosok Tuhan sesungguhnya, yang tak pernah bisa dikurung dalam bait Allah megah, tetapi dalam gerak orang-orang-Nya sendiri. Paling banter ‘disimpan’ dalam tenda yang sewaktu-waktu bisa dibongkar dan berpindah ke tempat lainnya.

Daud mendengarkan suara Allah, yang berjalan bersama umat-Nya dan tak menghendaki sebuah rumah atau kuil atau apalah namanya. Maka, Daud menghayati liturgi yang hidup, yang menghubungkan gerak fisik dengan gerak batin, yang memampukannya berjoged, bergembira, bergerak secara harmonis dengan gerak Roh Allah sendiri. Ini bukan cuma liturgi ritual, tetapi liturgi kehidupan. Orang bergerak bersama tarian Allah sendiri.

Itulah yang hendak saya tawarkan untuk dipelajari: Allah yang nomaden. Mungkin bisa Anda sampaikan kepada Tuhan Anda masing-masing untuk belajar dari Tuhan yang nomaden ini, kalau Tuhan Anda rendah hati loh ya. Allah yang nomaden tak bisa dipatenkan oleh agama atau non-agama. Semuanya punya hak untuk mengakses-Nya dan tak perlu jadi buta tuli hatinya. Benarlah kata seorang temin yang mungkin ‘terpaksa’ menangani kasus yang melibatkan sosok hirarki dalam Gereja Katolik: kebenaran adalah Tuhan sendiri, yang tak bisa dilekatkan pada jabatan bahkan dalam agama. Itulah konsekuensi mengimani Allah yang nomaden. Setiap orang yang terlibat di dalamnya mesti setiap saat mawas diri supaya tetap connect dengan Allah sejati. Apa artinya omong soal Allah pembawa damai tetapi malah menciptakan perang karena ambisi pribadi?

Ya Allah, mohon kekuatan supaya kami mampu mengikuti gerak-Mu dalam setiap jatuh bangun hidup kami. Amin.


SELASA BIASA III B/2
23 Januari 2018

2Sam 6,12b-15.17-19
Mrk 3,31-35

Posting Tahun A/1 2017: Ini Teman Saya
Posting Tahun C/2 2016: Ayo Investasi
Posting Tahun B/1 2015: Non Sense-of-Belonging

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s