The Humble God

Dulu waktu kecil saya mengira Tuhan itu sosok yang serba tahu dan berkuasa mutlak atas hidup saya. Setelah sekolah, lama-lama saya mengerti bahwa Tuhan itu sosok yang rendah hati loh. Ternyata ada gunanya juga ya sekolah itu, huaaaaa….

Apa yang Anda pikirkan saat membaca konsep The humble God? Yang Kristiani mungkin akan merujuk pada surat Paulus kepada jemaat di Filipi (2,1-11) mengenai Kristus yang merendahkan diri, ciye ciye ciyeeeee. Istilah kerennya kenosis, pengosongan diri.
Meskipun demikian, pikiran saya tidak ke sana, tetapi ke teks hari ini yang justru membuka pikiran saya: “Kalau kamu mau, kamu bisa menyembuhkan aku.” Maksud pernyataan itu jelas: kemampuan Yesus tak diragukan lagi. Dia pasti mampu. Soal kemampuan itu akan terealisasi atau tidak, bergantung pada belas kasihnya. Begitulah yang dinyatakan dalam teks hari ini.

Loh, apa bedanya toh, Mo, dengan surat Paulus tadi? Intinya kan dia mengosongkan diri! Sudahlah, jangan omong kosong. Kalau mau bilang Allah mengosongkan diri ya sumonggo, tapi tak usah mendewa-dewakan ungkapan itu sebagai satu-satunya cara untuk mengerti The humble God. Saya lebih senang dengan jalan lain yang lebih berguna untuk mawas diri. Jalan itu saya dapat dari buku The God Who May Be. Penulisnya filsuf tapi mengambil teks Kitab Suci, dan outputnya Tuhan itu seakan-akan lemah, gak jelas eksistensinya.

Kalau mau dituruti omong kefilsafat-filsafatan, nanti kita bisa ngelantur membicarakan apakah kepastian itu superior terhadap ketidakpastian, apakah aktualitas itu lebih penting dari potensialitas, dan seterusnya. Tapi sudahlah, ini kan bukan blog filsafat, jadi cukup ambil kontribusinya saja bagi suatu paham Allah yang lebih make sense bagi hidup kita. Apa kontribusinya? Menurut saya, tinjauan fenomenologi terhadap paham Allah itu bisa mengimbangi tendensi ideologis yang dimiliki teologi, dan dengan demikian juga arogansi agama. Di mana sih arogansi agama dan teologi? Pada titik keduanya memastikan bahwa Allah adalah A, B, dan C. Arogansi ini bisa juga muncul dalam kutub yang berlawanan: Allah bukan A, B, dan C.

Dalam teks hari ini, Yesus meminta orang yang disembuhkannya untuk mengikuti prosedur agama, yang orang-orangnya tak lepas dari kebobrokan dan arogansi. Di sini, jelas, Yesus tidak meneladankan pemberontakan terhadap agama, sebagaimana orang muda zaman now (sebetulnya segala zaman sih) berteriak “Tuhan, Yes. Agama, No.” Arogansi kok dilawan dengan arogansi, bagaimana kebenaran ditemui?

The God Who May Be mengantar saya pada keyakinan bahwa kegalauan yang saya punya bukanlah hal yang sama sekali baru, yang tak pernah dipikirkan orang lain bahkan jauh hari sebelum saya hidup. Di situ ada juga agama, tradisi, komunitas. Betapapun rapuh orang-orang yang ada dalam gerombolan bersejarah itu, agama dkk itu jadi bantuan orang untuk membangun makna yang tidak sewenang-wenang. Kalau ujung-ujungnya agama jadi sewenang-wenang, itu tak lain karena orang-orangnya sendirilah yang sewenang-wenang, yang tak punya paham The God Who May Be, orang-orang yang hendak jadi Tuhan [karena sedikit tahu tentang ritual, teologi, dan sejenisnya].

Kata hati saya: berhentilah jadi Tuhan, kalau terpaksanya mau jadi Tuhan, jadilah Tuhan yang rendah hati. Amin.


HARI KAMIS BIASA I B/2
11 Januari 2018

1Sam 4,1-11
Mrk 1,40-45

Posting Tahun A/1 2017: Mau Opname Dong 
Posting Tahun C/2 2016: Dewasa Sedikitlah, Brow 
Posting Tahun B/1 2015: Bahayanya Mukjizat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s