Galau Tiada Henti

Sapaan “Semoga Tuhan beserta kita” dalam ibadat Katolik tentu tidak berarti bahwa Tuhan tidak beserta mereka yang tidak sedang beribadat secara Katolik. Akan tetapi, sapaan itu memang mengindikasikan harapan orang bahwa Tuhan berpihak, berada, mendampinginya. Begitu juga halnya kalau orang membawa-bawa Tuhan dalam sumpahnya, atau membawa nama Tuhan dalam konflik, seakan-akan memang Tuhan bisa diseretnya ke ranah yang diinginkannya sendiri. Dari perspektif Kristiani ini bisa dimengerti: bahkan setan pun ingin menarik Anak Allah dalam kungkungan keinginannya. Orang sakit ingin Dia menyembuhkannya. Orang yang disalib di samping Yesus ingin supaya dia turun dari salib. Ahli agama dan Kitab Suci ingin dia tunduk pada tradisi yang sekian lama mereka jaga. Orang lapar ingin Yesus mengenyangkan mereka.

Pokoknya, pada setiap langkah Yesus dari Nazaret ini mesti ada upaya untuk menjatuhkan atau menggagalkannya. Setiap makhluk ingin dia berada di pihaknya: setan, orang sakit, pemuka agama, ahli Kitab Suci, kaum Farisi, para pinisepuh, dan seterusnya. Tidak hanya itu, murid-muridnya juga tentu maunya begitu. Petrus melarangnya pergi ke Yerusalem. Yohanes dan Yakobus minta jatah kelak dalam hirarki Kerajaannya. Yudas frustrasi dan menjual Yesus karena harapannya tak terakomodasi. Begitulah yang dialami Yesus dalam earthly life-nya.

Bisa dibayangkan kalau Yesus memenuhi seluruh keinginan makhluk-makhluk tadi. Dia memang bakal jadi pelayan, tetapi dalam arti budak makhluk ciptaan Sang Khalik. Kalau begitu, tentu bakal terjadi konflik horisontal antara orang sakit yang satu dan orang sakit lainnya, antara orang beragama dan orang kafir, antara nelayan dan pemungut cukai, dan sebagainya. Ini bisa dimengerti juga dari dinamika hidup (ibu) kota zaman now. Yang ini maunya begini, yang itu maunya begitu, balas-balasan, dendam-dendaman jadi mekanisme yang lumrah, dan yang jadi kurban senantiasa orang-orang lemah. Pada kenyataannya, Yesus memang melayani makhluk ciptaan-Nya, tetapi senantiasa sejauh sinkron dengan kehendak Allahnya.

Kegalauan tak kunjung henti biasanya terjadi pada ranah horisontal. Masing-masing orang bersikukuh dengan keinginannya sendiri dan tak mau membangun komitmen dengan yang lain. Kegalauan akan kunjung henti ketika orang mengatasi ranah horisontal dengan mengambil komitmen terhadap kehendak Allah. Tentu persoalannya tetap sama: kehendak Allah bisa diklaim identik dengan keinginan sendiri. Maka dari itu, bonum commune jadi indikator kelihatan dari kehendak Allah. Indikator tak kelihatannya cuma bisa dijawab setiap orang,”Apakah aku sedang ngotot dengan keinginan, ideal, gambaran, bayangan, kesukaanku sendiri atau aku berani mengurbankan itu untuk kebaikan bersama?”

Tak ada keselamatan yang berasal dari ciptaan. Hambok gubernurmu sopo waé kalau orang-orangnya senantiasa bersikukuh dengan karêpé mbilung ya keributan dan intriknya tetap akan langgeng selamanya forever für immer per sempre! Galau forever. Keselamatan datang dari keterpautan hati orang, komitmennya pada kehendak Allah yang sering melampaui pola pikir manusiawi.

Ya Allah, mohon rahmat supaya hati kami senantiasa lebih terbuka dan committed pada Sabda-Mu. Amin.


HARI RABU PEKAN BIASA B/2
10 Januari 2018

1Sam 3,1-10.19-20
Mrk 1,29-39

Posting Tahun A/1 2017: Mau Jadi Selebriti Eaaa
Posting Tahun C/2 2016: Price Tag vs Love Tag
Posting Tahun B/1 2015: Doa Yang Menyentuh Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s