Price Tag vs Love Tag

Ada orang yang begitu susah mendidik anak kandungnya sendiri, tetapi justru berjasa besar mendidik anak-anak orang lain. Ini tidak berlawanan dengan insight bacaan kemarin mengenai integritas. Penolakan kebenaran yang disampaikan seseorang tak selalu berarti bahwa orang yang menyampaikan kebenaran itu tak punya integritas. Bisa jadi pendengarnyalah yang tak punya integritas sehingga meski tahu kebenaran, ia tak mendarahdagingkan kebenaran itu dalam dirinya.

Contoh orang seperti itu ada dalam bacaan pertama, yaitu imam Eli. Ia tak berhasil mendidik dua anak lelakinya, Hofni dan Pinehas, yang hidupnya ngawur setengah mati. Mereka memanfaatkan status ayah mereka sebagai imam untuk menjarah daging persembahan dalam ibadat, mereka main perempuan dan aneka macam kejahatan lain yang tak diceritakan secara detail dalam Kitab Suci. Sebaliknya, Samuel anak pasutri Elkana-Hana yang dipercayakan kepada imam Eli tumbuh besar dan disukai, baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia (1Sam 2,26).

Hari ini disajikan kisah panggilan nabi Samuel yang dulu saya pakai untuk menjelaskan ‘fungsi’ pengakuan dosa kepada seorang anak SD: bukan pertama-tama untuk memperbaiki moralitas kepribadian seseorang, melainkan untuk membangun koneksi kembali dengan Dia yang menyokong hidup si subjek moral. Perbaikan moral hanyalah akibat atau dampak dari upaya reconnect itu. Jadi, yang pokok ialah relasi pribadi yang autentik dengan Allah. Untuk ke sana, Samuel masih perlu mediasi imam Eli yang punya integritas dan wawasan pengalaman rohani lebih luas. Kelak, kalau bekalnya sudah cukup, orang cukup mengikuti apa yang dibuat Yesus: mediasinya bukan imam, melainkan kesendirian, supaya orang bisa masuk ke kedalaman diri, mengenal diri, mengenali Allah yang hadir di kedalaman diri itu. [Pengakuan dosa tetap relevan untuk declare kerapuhan di hadapan Allah dan Gereja (Katolik).]

Ketika Yesus semakin populer dan banyak orang mencarinya, ia justru mengajak murid-muridnya untuk menarik diri, ambil waktu sejenak untuk melanjutkan pekerjaan yang lebih luas lagi jangkauannya. Contoh proses macam ini barangkali bisa dilihat dari rencana Pep Guardiola, sejauh berita yang saya peroleh benar. Ia tak menandatangani perpanjangan kontraknya dengan Bayern Muenchen (hiksss) karena ingin cari tantangan yang lebih membuka peluang untuk memaknai hidupnya dengan pergi ke Liga Inggris. Muncullah spekulasi klub-klub besar Inggris yang mengincarnya. Akan tetapi, pada satu kesempatan ia mengatakan bahwa keinginannya ke Inggris itu tidak begitu saja dibuat segera setelah ia hengkang dari Bayern. Ia mau pulang dulu, dan setelah itu ia akan memutuskan apakah ke Inggris atau tidak (meskipun ia sudah menyatakan keinginannya untuk ke Inggris; memang keputusan yang baik tidak bisa hanya dilandaskan pada keinginan).

‘Pulang’ bisa jadi sangat simbolik sebagaimana pernah diulas di sini (Ayo Cari Jalan Pulang). Jika orang sudah terlatih mencari ‘jalan pulang’, ia akan tahu pilihan mana yang mesti dijatuhkannya: bukan karena harga, melainkan makna. Berbahagialah anak yang diajari menghargai sesuatu karena maknanya. Ia akan tahu bahwa ia menghargai cinta, bukan asesorisnya.

Tuhan, semoga aku semakin mengenali cinta-Mu dalam setiap momen hidupku. Amin.


HARI RABU PEKAN BIASA C/2
13 Januari 2016

1Sam 3,1-10.19-20
Mrk 1,29-39

Posting Tahun Lalu: Doa Yang Menyentuh Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s