Jangan Paksakan Hidayah!

Kepada sekelompok mahasiswa jurusan Pendidikan Guru SD seorang dosen senior mempresentasikan materi yang memang sebetulnya penting, tetapi kebanyakan mahasiswa itu omong sendiri. Dosen ini setiap kali meminta mahasiswa diam menyimak presentasinya, tapi atensi mereka tak bertahan lama. Akhirnya, presentasi dosen itu didominasi oleh usahanya untuk memaksa para mahasiswa diam.

Dosen yunior mengerti kondisi mahasiswa. Ketika tiba gilirannya presentasi, ia berdialog dulu dengan mahasiswa untuk perkenalan. Salah satu pertanyaan yang dilontarkannya ialah apa yang dialami mahasiswa waktu praktik mengajar di kelas anak-anak SD: apa yang menyenangkan dan tak menyenangkan. Semua jawaban disampaikan dengan begitu meriahnya sampai akhirnya mereka kompak menjawab hal yang paling tak menyenangkan: mereka itu ramai sendiri! Dosen muda itu lalu berkata dengan agak keras: jadi apa bedanya mengajar mahasiswa dan mengajar anak-anak SD? Pada saat itulah para mahasiswa tertawa menyadari keadaan diri mereka, lantas menyimak materi yang disampaikan tanpa banyak ribut di sana sini.

Ajaran Yesus pada awal karyanya bukanlah ajaran baru; tak beda dari ajaran Yohanes Pembaptis, tak beda pula dari yang diajarkan ahli-ahli Taurat. Dalam teks dituliskan bahwa audiens takjub mendengar pengajarannya, sebab ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Ini lebih berkenaan dengan metode daripada isi ajarannya sendiri. Kuasa yang menyertai ajaran Yesus tidak terletak pada isi ajarannya, yang nota bene bisa diajarkan oleh siapapun yang berkehendak baik, tetapi pada cara mengajar yang dirasuki oleh prinsip pokok ajarannya. Hmm… ora mudheng, Mo!

Gampangnya: Anda mengajari orang lain untuk tepat waktu pada sesi yang dimulai terlambat karena Anda terkena macet. Nasihat moral Anda tak bergaung dari diri Anda (karena terpisah dari kenyataan hidup Anda sendiri) dan tak menyentuh audiens. Dosen senior tadi punya ajaran yang baik: mahasiswa hendaknya mendengarkan dosen. Akan tetapi, ajaran itu disampaikannya dengan metode yang tak sejalan dengan pokok ajarannya sendiri soal mendengarkan. Ia sendiri tidak mendengarkan apa yang terjadi pada diri mahasiswa, tidak mencari jawab mengapa mereka tidak mendengarkan.

Dosen mudanya kiranya lebih mendekati integritas isi dan metode. Ia menyelami dunia hidup mahasiswa sehingga pertanyaan dan pernyataannya pun bergema dalam diri mahasiswa. Saya tidak mengatakan bahwa metode itu bisa 100% berhasil (jika mesti diberi label sukses atau gagal), tetapi seperti itulah otoritas yang dimiliki Yesus. Ia mengajar dengan integritas, dengan cara yang klop, yang sinkron dengan prinsip ajarannya. Integritas memperkuat pesan, melegitimasi otoritas kebenaran, bukan dengan paksaan (sejajar dengan dalil bahwa cinta tak memaksa), melainkan dengan kebebasan. Aneh kan kalau hidayah dipaksakan?

Akan tetapi, meskipun metode empatik diterapkan, ketika inti ajaran menantang hidup mereka, pada kenyataannya mereka bisa kocar-kacir. Tidak semua orang pada akhirnya menerima kebenaran karena kebenaran tidak hanya menuntut integritas pembicara, tetapi juga integritas pendengarnya. Dosen muda tadi ‘beruntung’ karena mahasiswanya bisa menangkap poin kebenaran dan menerapkannya dalam hidup mereka saat itu. Mereka bisa saja mengambil posisi seperti roh yang merasuki seseorang: apa urusanmu dengan kami?! Tak sedikit orang yang tahu mana yang benar tetapi tak melakukannya atau malah menentangnya. Tanya kenapa!

Tuhan, semoga aku lebih ingin memahami daripada dipahami. Amin.


HARI SELASA PEKAN BIASA C/2
12 Januari 2016

1Sam 1,9-20
Mrk 1,21b-28

Posting Tahun Lalu: Tuhan? Gak Ada Urusan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s