Anda Mandul?

Perilaku orang sulit ditebak, apalagi perilaku Tuhan! Ada orang yang secara medis dinyatakan mati, ternyata masih bertahan hidup. Ada orang yang segar bugar tahu-tahu dalam hitungan jam meninggal karena sakit. Ada orang yang selamat di tengah reruntuhan gedung yang luluh lantak atau tsunami yang merenggut sekian ribu nyawa. Tak heran bahwa orang mengungkapkan kenyataan ‘panjang umur’ pada perayaan ulang tahun karena memang begitulah adanya. Sebagian orang yang berpikir bahwa ulang tahun berarti umur berkurang tampaknya hanya memandang hidup sebagai mekanisme biologis yang terukur dengan hitung mundur: sisa waktumu tinggal 6 bulan lagi, misalnya.

Ada mahasiswa yang tak tahu bahwa sexual intercourse dapat menyebabkan kehamilan. Terjadilah di sana sini orang membunuh janin seperti membunuh nyamuk semata karena menutup aib. Sebaliknya, dulu saya kira sexual intercourse pasti membawa kehamilan. Tetapi setelah mendengar kisah pasutri yang sekian tahun menikah dan tak kunjung punya anak kandung, saya baru ngeh bahwa hubungan kelamin pun tidak otomatis mendatangkan kehamilan. Ada aneka macam faktor.

Bacaan pertama hari ini menuturkan kisah Elkana yang beristri dua: Hana dan Penina. Hana tertutup kandungannya sehingga tak punya anak meskipun ia rajin pergi ke rumah Tuhan. Entah apa yang diperbuat Penina, tetapi dikatakan bahwa Hana menjadi gusar karenanya. Maklum, katanya banyak anak, banyak berkat dan tak beranak berarti tak dapat berkat. Akan tetapi, cuplikan teks hari ini justru diakhiri dengan pertanyaan Elkana yang menantang keyakinan orang saat itu, dan juga orang zaman sekarang: Bukankah aku lebih berharga bagimu daripada sepuluh anak laki-laki?

Persoalannya bukan lagi soal punya anak atau tidak, melainkan soal apakah orang bisa jadi saluran kehidupan. Mandul tak hanya eksklusif milik Hana, tetapi juga Penina, yang pada dasarnya tak mampu membangun kehidupan. Tampaknya Penina melakukan bullying terhadap Hana karena rupanya Elkana lebih mengasihi Hana daripada dirinya. Bisa dimengerti, anak sebagai berkat memang diakui juga dalam hukum agama, tetapi cinta yang diberikan Elkana tak bisa dikungkung oleh hukum agama. Angka sepuluh yang dipakai Elkana memiliki makna yang mirip dengan angka tujuh, yaitu kesempurnaan, kepenuhan.

Cinta Elkana kepada Hana semestinya ditangkap jauh lebih berharga daripada jumlah anak yang mungkin bisa dilahirkan Hana. Kehadiran anak, berapapun jumlahnya, bisa diterima sebagai berkat Allah, tetapi kesuburan hidup orang tak bisa diukur semata dengan jumlah anak. Orang bisa bral-brol memproduksi anak dan menelantarkan mereka: secara fisiologis subur, tetapi kesuburan itu tak terintegrasi dalam kemanusiaannya. Dari mana kesuburan itu kalau bukan dari hadiah dari pihak Allah yang diterima dengan kerja sama dari pihak manusia, alias iman?

Bacaan kedua mengisahkan kesuburan karena iman itu tadi: para murid dipanggil Yesus untuk melakukan transformasi hidup. Para murid dipanggil Yesus dalam rutinitas biasa ketika. Mereka diundang masuk dalam kesuburan hidup: bukan melulu penjala ikan, melainkan penjala manusia. Lagi, bukan soal barangnya, tapi cintanyalah yang memberi kehidupan; bukan hitung mundur, melainkan ‘hitung maju’ untuk penyebaran kultur kehidupan. Ya mau apa, hidup, bagaimanapun keadaannya, adalah berkat Allah yang perlu disambut juga dengan pertobatan, bukan kemandulan.

Tuhan, semoga imanku membuka celah kesuburan Sabda-Mu. Amin.


SENIN BIASA I C/2
11 Januari 2016

1Sam 1,1-8
Mrk 1,14-20

Posting Tahun Lalu: We Are Instruments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s