Pakai Barang, Cintai Orang

Kemarin sudah ditunjukkan poin bahwa bahkan Tuhan pun ingin dicintai apa adanya, bukan dicintai karena aneka perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya. Akan tetapi, seperti orang pada umumnya, jarang sekali keinginan seperti itu terpenuhi karena orang cenderung menghargai orang lainnya atas dasar seberapa jauh kegunaan orang itu. Memang memprihatinkan: kita memanfaatkan, memakai orang lain untuk proyek kepentingan kita sendiri yang begitu kita cintai. Kita memanfaatkan orang untuk mencintai barang (entah konkret ataupun abstrak). Ini membuat orang susah meyakini bahwa ia dicintai apa adanya.

Seorang teman blogger mengingat film seri kartun jadul berjudul Calimero yang populer di awal tahun 60-an di Italia sekurang-kurangnya. Menurutnya, ada sebagian orang yang sepanjang hidupnya begitu menghayati sindrom Calimero ini: begitu meyakini diri tak bisa dicintai oleh siapapun. Sebuah lirik lagu Calimero menyebut Calimero punya paruh tapi tak punya respek dan hidupnya jadi tak punya taste. Memang sih, apa rasanya hidup ini tanpa cinta? Bahkan film Ip Man 3 pun menyodorkan pesan kuat ini: cinta yang memberi hidup jauh lebih penting dari proyek pribadi nan ambisius.

Pesta pembaptisan Yesus yang menutup masa Natal sebetulnya ‘hanya’ mau menegaskan status manusia di hadapan Allah: sebagai anak-Nya. Status ini terealisir jika proyek pribadi manusia terintegrasi dengan proyek keselamatan Allah sendiri. Dengan kata lain, status ‘anak Allah’ sebetulnya merupakan suatu undangan bagi orang untuk memandang hidup ini sebagai panggilan menjalankan misi keselamatan Tuhan, bukan penyelesaian proyek pribadi yang cenderung korup terhadap misi keselamatan itu.

Baptisan Yesus menginisiasi misinya. Sayangnya, mungkin kita pada umumnya menghayati hidup lebih sebagai proyek (pribadi) daripada misi. Tokoh antagonis dalam Ip Man 3 terbakar oleh ambisinya untuk membuktikan master kung fu terbaik. Ini adalah konstruksi mentalnya sendiri untuk memperoleh privilese tertentu. Misi, sebaliknya, muncul sebagai tanggapan terhadap sesuatu di luar konstruksi mental belaka: dari penderitaan sesama, dari jeritan kehidupan, dari Allah sendiri. Ip Man senantiasa melihat kelemahan diri, tetapi seiring dengan itu mampu melihat prioritas makna yang menjiwai hidupnya.

Berhadapan dengan sisi gelap diri, orang bisa saja membangun konstruksi mental yang ilusif. Tetapi orang beriman dipanggil untuk menghayati hidup sebagai misi untuk mengatakan ‘ya’ terhadap kehidupan, bukan terhadap (proyek) diri sendiri. Mengatakan ‘ya’ terhadap kehidupan berarti meletakkan segalanya dalam relasi dengan si Pemberi Hidup dan tak pernah mengungkung hidup itu dalam konstruksi mentalnya sendiri.

Istri Ip Man menyadari kenyataan ini di penghujung hidupnya: ia tak bisa merenggut Ip Man sebagai barang yang melulu dipakai untuk memenuhi keinginan pribadinya. Ia mesti membiarkan Ip Man menjadi dirinya sendiri dan justru karena itulah Ip Man akhirnya memenuhi tantangan lawan seturut dinamika relasi cintanya dengan istrinya, bukan seturut ambisi untuk bertarung dengan lawan.

Ya Tuhan, semoga dalam segala aku dapat menemukan panggilan-Mu. Amin.


PESTA PEMBAPTISAN TUHAN C/2
Minggu, 10 Januari 2016

Yes 40,1-5.9-11
Tit 2,11-14;3,4-7

Luk 3,15-16.21-22

Posting Tahun Lalu: Tuhan Kok Dibaptis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s