Tukang Cukur Tuhan

Seorang temin yang sedang dalam masa honey moon, agak aneh, memposting video yang berbau-bau ketuhanan. Klik di sini untuk link videonya. Klipnya sederhana. Seorang tukang cukur menyodorkan argumentasi bahwa jika Tuhan itu ada, pastilah tak ada penderitaan dan aneka kesengsaraan di muka bumi ini. Si pelanggan keluar dari tempat cukur lalu masuk kembali bersama seseorang yang gondrong dan berkata bahwa tukang cukur pun gak ada karena kalau ia ada, tentu gak akan ada orang yang gondrong. Si tukang cukur menyangkal: tukang cukur ya ada, cuma problemnya orang gondrong itu gak datang kepadanya untuk potong rambut. Lalu masuklah pesannya: problem penderitaan di dunia ini muncul karena orang tidak datang kepada Tuhan.

Anda tentu boleh tersentuh oleh pesan klip itu, tetapi tak perlu tertipu oleh kerancuan metodologis dalam analogi itu. Cukuplah menangkap pesan moralnya: datanglah kepada Tuhan mohon kekuatan untuk ikut ambil bagian meminimalisir penderitaan di muka bumi ini, bukan menghindari atau malah menambahnya. Akan tetapi, kita tahu bahwa adanya Tuhan tak bisa disejajarkan dengan adanya tukang cukur (wong misalnya, Dia gak kelihatan begitu saja seperti tukang cukur kelihatan, sehingga datang kepada Tuhan pun tak bisa disejajarkan dengan datang kepada tukang cukur). Analogi yang tidak tepat ini bisa mengundang aneka perdebatan yang ngoyoworo, muspro.

Orang Kristen sebenarnya masuk dalam analogi yang ngoyoworo itu karena menyejajarkan seorang tukang kayu (lebih tepatnya tukang bangunan, menurut seorang warga Israel, tanah kelahiran tukang itu) dengan Tuhan. Kekeliruan metodologis dalam analogi itu hanya bisa ditolerir jika orang Kristen menerima Yesus sebagai pribadi yang lebih dari tukang. Seorang tukang, kita tahu, dikenal kepribadiannya karena apa yang dibuatnya. Ada lagi tukang yang kata-katanya juga diterima dan diikuti: guru. Akan tetapi, menerima Yesus sebagai tukang ngajar atau tukang lainnya tetaplah membelenggu orang Kristen untuk bisa mengatakan bahwa Yesus memiliki kepribadian ilahi. Dibutuhkan lompatan pemikiran dari kerangka ‘tukang’ ke frame yang lain.

Tak perlu jauh-jauh meributkan Yesus. Orang pada umumnya ingin diterima bukan karena uangnya, bukan karena prestasinya, bukan karena bajunya, bukan karena warna rambutnya, bukan karena statusnya, dan sebagainya. Orang ingin diterima, dicintai apa adanya. Teks hari ini mengisahkan Yesus yang menyembuhkan orang kusta dan kemudian orang banyak berbondong-bondong datang hendak meminta mukjizat penyembuhan juga. Yesus tidak anarkis, ia tetap mengindahkan ketentuan hukum agama dan meminta orang kusta yang sembuh itu untuk declare di hadapan para imam, tetapi ia sendiri tak ingin mukjizat yang terjadi melalui dirinya itu menyesatkan orang. Yesus kiranya tahu benar bahwa mukjizat bersifat ambigu dan ia tak ingin dipandang sebagai tukang menyembuhkan orang sakit atau guru.

Dalam gaya antropomorfis, Tuhan pun ingin dicintai apa adanya, bukan karena apa yang Dia lakukan betapapun ajaib. Keajaiban bisa jadi tanda, isyarat, ramalan, konfirmasi bahwa Kerajaan Allah telah datang di antara kita. Akan tetapi, kalau kita terus menerus mencari keajaiban demi keajaiban, mukjizat justru menunjukkan kelemahan iman. Ketika orang melulu meminta sarana extraordinaria dari Tuhan, itu adalah cerminan imannya yang mati.

Tuhan, semoga aku mampu mencintai diri apa adaku, supaya semakin mampu mencintai-Mu. Amin.


HARI BIASA SETELAH PENAMPAKAN TUHAN C/2
Jumat, 8 Januari 2016

1Yoh 5,5-13
Luk 5,12-16

Posting Tahun Lalu: Temuilah Dokter Cinta

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s