Apa Yang Kupertuhankan?

Tanpa ilmu psikologi mungkin saya tak pernah paham kenapa sewaktu saya kelas dua SD bisa sedemikian cemburu kepada Om saya sendiri karena ia begitu dekat dengan perempuan yang menurut saya waktu itu cantiiik sekali (maklum, neng geulis dari Bandung, Bro’). Saya sih tidak pengen dekat dengan perempuan itu, tetapi gak seneng aja Om saya bisa akrab dengan perempuan yang baru kenal sewaktu mantenan kerabat kami di Bandung.

Yohanes Pembaptis dalam teks hari ini memakai analogi mantenan juga. Latar belakang ceritanya ialah bahwa Yesus mulai mendapatkan pengikut lebih banyak dari pengikut Yohanes Pembaptis, padahal Yesus sendiri dibaptis oleh Yohanes. Murid Yohanes pun merasakan semacam iri terhadap para pengikut Yesus dan mereka melaporkan gerakan Yesus itu kepada Yohanes Pembaptis. Akan tetapi, jawaban Yohanes Pembaptis tampaknya malah membuat murid-muridnya terheran-heran.

Yohanes mengajak murid-muridnya untuk menempatkan persoalan secara objektif dengan mempertimbangkan tiga hal. Pertama, tak seorang pun menerima berkat tanpa hidayah dari Allah dan terhadap hidayah itu, selayaknya orang bergembira, alih-alih merasa iri. Kedua, Yohanes menegaskan status diri bahwa ia bukanlah Mesias. Ia anggota ‘tim sukses’ yang tidak pada tempatnya dibandingkan dengan pribadi yang diperkenalkannya. Ketiga, Yohanes memakai analogi mantenan.

Dalam tradisi di Palestina saat itu, teman mempelai pria ‘bertugas’ mendahului si mempelai untuk nantinya mengintroduksi mempelai pria kepada mempelai wanita dengan legitimasi bahwa teman itu mengerti betul ‘suara’ mempelai pria. Dalam analogi ini, Yohanes menempatkan dirinya sebagai teman mempelai pria dan Yesus adalah mempelai prianya, sedangkan mempelai wanitanya adalah orang-orang Israel saat itu. Yohanes mengenali suara Mesias dan ia pun mengalami kepenuhan suka cita untuk memperkenalkannya kepada bangsa Israel. Yohanes tidak menginginkan apa-apa bagi dirinya sendiri. Ia bahagia seutuhnya ketika Mesias datang dan bangsa Israel menerimanya.

Dalam kehidupan jemaat perdana saat itu bisa dimengerti perselisihan minor antara murid Yesus dan Yohanes Pembaptis. Maklum, kedua gerakan itu sama-sama mewartakan kedatangan Kerajaan Allah. Untunglah, penulis Injil tampaknya sepakat untuk menegaskan bahwa Yohanes Pembaptis bukanlah Mesias. Ia melontarkan ungkapan penting: Ia harus makin besar dan aku harus makin kecil. Ungkapan itu tak hanya berguna bagi murid Yohanes Pembaptis, tetapi juga bagi murid Yesus, dan murid siapapun yang mengaku diri sebagai peziarah menuju Allah.

Ini adalah pesan lintas agama, yang dengan lugas juga disinggung oleh Gus Dur dengan ungkapan yang lebih populer: Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca al-Qur’an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi al-Qur’an. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah.

Tuhan, semoga aku tidak merancukan tujuan dengan sarana untuk memuji-Mu. Amin.


HARI BIASA SETELAH PENAMPAKAN TUHAN C/2
Sabtu, 9 Januari 2016

1Yoh 5,14-21
Yoh 3,22-30

Posting Tahun Lalu: Compare? Despair!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s