Iman Jelangkung?

Pernah coba buka Kitab Suci, dan sembari menutup mata menunjuk bagian tertentu dari halaman yang terbuka itu dan meyakininya sebagai sebagai kata-kata Tuhan sendiri yang harus Anda lakukan saat itu? Jika itu jadi hobi Anda, pernahkah begitu membuka mata Anda dapati kata-kata,”Enyahlah kau, Iblis!”? Sekiranya itu yang terjadi, siapakah yang akan Anda enyahkan? Diri Anda sendiri atau orang lain di sekitar Anda?

Allah bisa menyampaikan pesan-Nya melalui apa saja kepada siapa saja. Kepada binatang, Ia memberikan hidayah melalui hukum kebinatangan. Kepada manusia Ia memberikan hidayah melalui hukum kemanusiaan yang celakanya kerap direduksi sebagai hukum kebinatangan. Janjane kalau yang diadopsi itu hukum kebinatangan yang bersifat merawat sih gada masalah. Runyamnya, yang umumnya diadopsi dari hukum kebinatangan adalah dominasi struggle for the fittest itu. So, persoalannya bukan bahwa Allah bisa memberikan hidayahnya melalui sarana apa saja, melainkan bagaimana kita sendiri memberikan respon terhadap hidayah dari Allah itu.

Sebagian orang memberi respon yang prinsipnya seperti main jelangkung; mengundang roh yang akan menjawab aneka pertanyaan si pemain. Jawaban itu diterima sebagai hidayah yang mesti ditindaklanjuti oleh si pemain. Akan tetapi, jelaslah kodrat manusia tak bisa dilanggar. Pada titik tertentu akhirnya orang mesti menimbang-nimbang apakah jawaban roh tadi memang klop dengan hidayahnya. 

Yesus membacakan teks yang relevan juga bagi pembaca lain: Roh Tuhan ada padanya dan Roh itulah yang menuntunnya untuk mewartakan inklusivisme keselamatan, yang selama ini dimonopoli oleh kekuatan lembaga agama dan politik. Pada masa itu, untuk kesekian kalinya dicatat pada blog ini, situasi penjajahan kekaisaran Romawi dan otoritas agama memaksa setiap keluarga cari selamat kelompoknya sendiri-sendiri. Banyak orang jadi homeless, tersingkir, nganggur, dan miskin. Alih-alih membangun kohesi sosial, otoritas agama dan situasi politik justru memperkuat segregasi sosial. Yesus mewartakan kabar pembebasan yang melampaui hiruk pikuk politik dan agama.

Tentu saja Roh Tuhan ada tidak hanya pada Yesus, tapi pada semua orang. Sekali lagi, Allah bisa memberikan hidayah-Nya melalui sarana apa saja dan kepada siapa saja. Itu bukan persoalannya. Problemnya ialah bagaimana orang berproses mencari dan menanggapi hidayah itu. Yesus punya misi mewartakan pembebasan dari mentalitas yang membawa segregasi sosial tadi. Orang mesti memperbesar tempurung hidupnya sehingga tak ada lagi yang tereksklusi. Memang tidak mudah. Agama bertendensi eksklusif karena disokong oleh penganutnya yang eksklusif. Boro-boro mau pikir keadilan sosial, pikir agama saja sudah eksklusif! Tak puas eksklusif terhadap penganut agama lain, orang bisa eksklusif bahkan terhadap penganut agama yang sama. Ini jelas tak cocok dengan warta pembebasan yang  diumumkan Yesus.

Mereka yang mendengar pengajaran Yesus semula terpukau dan terkagum-kagum, tetapi setelah mengerti konsekuensi ajaran itu, mulailah mereka menyerang Yesus. Di situ, bukan hukum manusiawi lagi yang jadi sarana hidayah, melainkan hukum dominasi hewani: aku harus tampil eksklusif! Kamu salah dan harus kuenyahkan. Ironis nasib Yesus: ia mengundang orang untuk tidak eksklusif, dan akhirnya dihabisi oleh mereka yang eksklusif, yang seakan-akan melihat Yesus sebagai Iblis.

Ya Tuhan, semoga aku semakin mampu melihat hidayah-Mu juga dari perspektif yang berbeda. Amin.


HARI BIASA SETELAH PENAMPAKAN TUHAN C/2
Kamis, 7 Januari 2016

1Yoh 4,19-5,4
Luk 4,14-22a

Posting Tahun Lalu: Mau Alih Profesi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s