Tak Ada Iman Bermodal Ndableg

Kemarin lusa saya diundang makan di resto yang terkenal bersih. Kelihatan dari cara para waitress membersihkan meja kacanya. Lantai juga kinclong dan di depan saya juga ada ibu-ibu yang bukan mahmud lagi tapi kinclong. Saya terpesona dan terbengong-bengong dibuatnya, bukan karena kekinclongannya, melainkan karena gerak gemulainya berjalan menuju tempat kasir dan menjatuhkan tisunya begitu saja di lantai. Oh oh oh, dan esok paginya ada status temin berbunyi: Jangan berdebat dengan saya soal moral, etika, sopan santun dan agama kalau buang sampah aja masih di[ ]jalan raya… [Sangar juga temin saya ini. Rupanya dia melihat modus yang mirip.]

Anda mungkin pernah baca tulisan ‘kebersihan adalah bagian dari iman’. Terkandung di dalamnya suatu maksud bahwa iman bukan lingkup batiniah doang, melainkan juga bersifat lahiriah. Sungguh inkonsisten membanggakan diri beriman dan pasrah kepada Allah yang Maha Esa, tetapi hobi bermain judi atau main perempuan. Ya ya ya, Romo, itu sih oke tapi  kenapa mesti bawa-bawa kebersihan segala? Apa Romo tidak merasa munafik: sampah-sampah yang Romo buang di tong sampah itu akhirnya ke mana sih? Pokoknya kan sama: Romo membuang sampah sembarangan, cuma sembarangannya diterima oleh dinas kebersihan atau pemerintah! Haiya betul. Ya sudah deh, gak usah bahas lagi, nanti malah njelimet dengan teori legitimasi tempat sampah, hahaha!

Bacaan hari ini menyajikan kisah lanjutan kemarin. Setelah mukjizat penggandaan roti untuk sekian banyak orang, Yesus meminta murid-muridnya naik ke perahu, dan orang banyak itu pulang. Mungkin Yesus tak mau jadi objek kelekatan banyak orang dan ia hendak mengantisipasi intimidasi penguasa dengan doa-doanya, sementara para murid dimintanya naik perahu. Ini seperti antisipasi masa setelah Yesus naik ke surga: ia meninggalkan murid-murid di tengah badai hidup dan kerapuhan perahu mereka.

Memang jemaat penulis Markus pada sekitar tahun 70 sedang heboh-hebohnya dengan kesulitan hidup kelompok mereka. Mereka berhadapan dengan dua kelompok anggota baru, yaitu (1) orang-orang Yahudi yang begitu fasih dengan hukum Taurat dan (2) orang-orang pagan (politeis) yang pastinya tak punya perhatian pada hukum Taurat. Kelompok pertama cenderung membingkai pemahaman mereka mengenai Yesus dengan nubuat-nubuat Kitab Suci mereka. Kelompok kedua cenderung hendak mengideologikan ajaran Yesus yang bisa klop dengan kekuasaan kekaisaran saat itu. Markus mencoba membantu mereka untuk menghargai misteri Yesus Kristus tanpa mereduksinya dengan ideologi dan keinginan politis mereka. Gak gampang!

Dilukiskan Markus bahwa para murid mengira Yesus adalah hantu dan karenanya mereka takut. Ada sesuatu yang memblokade mata batin mereka, dan ayat terakhir (sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil) mengingatkan kita pada kisah Firaun yang hatinya mengeras (Kel 7,3.13.22), atau juga Kitab Mazmur (95,8) dan Kitab Bilangan (20,2-10) yang menuturkan bagaimana umat Israel tak mendengarkan kata-kata Musa dan ngotot untuk kembali ke Mesir, alias ndableg!

Iman tidak hanya mengandaikan pikiran atau rasionalitas, tetapi juga afeksi. Afeksi inilah yang memungkinkan orang terhubung dengan lingkungan sekitar. Iman bukan ideologi karena membawa orang pada relasi, yang tak pernah bisa terjalin tanpa kesadaran berlingkungan, kesadaran bersaudara, bersesama.

Ya Tuhan, semoga hidup afektifku semakin mengukuhkan iman kepada-Mu. Amin.


HARI BIASA SETELAH PENAMPAKAN TUHAN C/2
Rabu, 6 Januari 2016

1Yoh 4,11-18
Mrk 6,45-52

Posting Tahun Lalu: Buat Apa Takut?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s