Rebutan Hidayah

Seteru di Timur Tengah yang sejak zaman batu sampai sekarang tak kunjung usai menjadi indikasi jelas bahwa memang tak ada nabi yang dihargai di tanahnya sendiri. Entah berapa nabi terbunuh. Yesus pun gagal membawa damai. Memang sih dia sudah mengatakan sejak awal: aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang! (Mat 10,34) Tapi itu jelas bukan excuse untuk mengatakan bahwa dia gagal, bahkan kalau mau dibela dengan argumentasi bahwa yang gagal ialah pengikut-pengikutnya dalam menerjemahkan damai dan pedang itu.

Bagaimanapun bunyi teori konspirasi atas gejolak di Timur Tengah itu, semua yang terlibat di dalamnya benar-benar meremehkan paham Allah yang diintroduksi oleh Yesus. Mungkin bukan karena kesengajaan, melainkan karena gagal paham.

Saya tidak mengklaim bahwa saya paham seratus persen apa yang dimaksudkan Yesus, tetapi saya yakin bahwa konsep Allah sebagai ‘Bapa’ yang ditawarkannya bukan sekadar flatus vocis. Halah, apa sih pake’ flatus vocis segala? Itu seperti pistol berbunyi ‘dor’ di Indonesia tetapi ‘bang’ di tempat lain, yang artinya ‘bang’ dan ‘dor’ itu tak terlekat pada bunyi pistol, tetapi terserah orang mau sepakat menyebutnya bagaimana. Allah Bapa yang disodorkan Yesus pasti juga bukan konsep gender (sehingga Allah dituduh hanya maskulin) dan biologis (sehingga Allah dituduh punya anak dan kakek yang kawin dengan nenek dan memperanakkan ibu dan bla bla bla). Maka, kalau dipancing untuk berwacana tentang problem-problem seperti itu, saya cuma bisa menyodorkan satu kata: ‘preeet’.

Ini adalah konsep teologis (biblis, bukan belibis) yang abstraksinya tetap berasal dari hidup konkret sehari-hari. Teks hari ini bisa diambil untuk melihat hubungan konsep dan realitas itu. Kisahnya sederhana, mirip seperti yang dirujuk posting Pasukan Nasi Bungkus. Akan tetapi, mari kita tilik dari konteks terdekat, yaitu Natal yang baru saja lewat. Logika Natal adalah logika menyambut wajah Allah yang tak terduga-duga, yang mengundang orang untuk mengubah cara pandang secara radikal. Mohon lepaskan dulu dogma yang Anda pegang bahwa bayi Yesus adalah Allah yang menjadi manusia (dan keyakinan bahwa bayi Yesus bukanlah Allah yang menjadi manusia).

Natal adalah momen ketika Allah jadi seperti tamu rentan yang minta perhatian untuk disambut, diterima, sebagai bayi nan malang yang rapuh. Padahal, kita semua terus menerus mencari sosok Allah yang powerful, yang tegas menghukum mereka yang salah, yang efisien menjalankan tugas, yang berotot, yang menang, yang menunjukkan mukjizat, keajaiban spektakular, dan sejenisnya.

Di hadapan kerumunan orang yang lapar, Yesus meminta para murid (kamu, ya kamu itu!) untuk menyediakan sesuatu, sekecil apapun yang dipunyai, alih-alih menonton nunggu solusi datang dari langit dan kritik sana sini. Allah ingin menyelamatkan dunia melalui orang yang percaya kepada-Nya, melalui tangannya yang rapuh, dengan menerima hiburan Allah dalam hati, yang pada gilirannya dapat menghibur orang lain. Paradoks ini tak ada jika orang tak menerima Allah sebagai Bapa (bagi siapa saja). Paradoks ini tak akan hidup jika setiap orang mau mengklaim kebenaran bagi dirinya sendiri, apalagi dengan memaksakannya kepada orang lain! Ia tidak membiarkan Allah memberikan hidayah dan hendak merebut hidayah itu bagi dirinya sendiri.

Ya Allah, semoga aku berani mulai mencintai sesama sebagai saudara. Amin.


HARI BIASA SETELAH PENAMPAKAN TUHAN C/2
Selasa, 5 Januari 2016

1Yoh 4,7-10
Mrk 6,34-44

Posting Tahun Lalu: Siapa Bilang Allah Mahakuasa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s