Mulai dari Kamu… Ya, Kamu!

Bencana tak selalu hanya memuat konsekuensi negatif, ada juga potensi positif yang bisa dikuak karenanya. Ini sudah dibahas dalam posting lalu (lih. Kesempatan Sempit). Teks hari ini menyodorkan episode ketika Yesus mendengar Yohanes Pembaptis ditahan karena suara kenabiannya yang panas terhadap tindak-tanduk Herodes. Yesus menyingkir ke wilayah utara, wilayah pagan atau orang-orang yang tak percaya pada Allah Israel, yang tentu saja Allah bagi segala bangsa. Apakah dia menyingkir ke utara untuk menghindari teror Herodes? Tidak. Ia justru melakukan dakwah di sana.

Teks bacaan hari ini ditulis dengan latar belakang situasi jemaat Yahudi pengikut Kristus yang menghadapi situasi sulit. Apa sulitnya? Ya jelas, mereka yang percaya pada Kristus tentu dikutuk oleh pemeluk agama Yahudi. Tidak hanya dicaci maki, tapi juga dianiaya. Pokoknya teror mental dan fisik. Penulis Matius hendak meneguhkan kelompok Yahudi yang percaya kepada Kristus ini dengan meyakinkan mereka bahwa Yesus memang Mesias yang mereka nanti-nantikan itu. Lebih dari itu, Matius hendak mengatakan bahwa keselamatan yang dibawa Mesias ini tidak terbatas pada komunitas Yahudi belaka. Kita ingat dalam genealogi yang disodorkan Matius (lih. Panggung Sandiwara), silsilah Yesus diawali dengan identitas Yesus sebagai anak Daud, dan anak Abraham.

Anak Daud menunjuk kekhasan bangsa Israel yang mengalami kejayaan pada masa Daud, sedangkan anak Abraham menyatakan bahwa Yesus pun adalah bagian dari seluruh ras manusia yang berasal dari sosok Abraham. Misi yang dibawa Yesus tidak eksklusif bagi keturunan Daud, tetapi juga bagi seluruh keturunan Abraham. Ini adalah catatan bagi mereka yang eksklusif dalam penghayatan agamanya.

Gereja, yang tak bisa direduksi sebagai agama Kristen dan Katolik, tak pernah dibangun dengan pendirian tempat ibadat di pusat keagamaan. Gereja dibangun dari periferi, wilayah pinggiran. Pewartaan kabar gembira tidak dimulai dalam gedung megah gereja. Jika orang berpikir bahwa pewartaan kabar baik itu dimulai dari bangunan gereja dan perangkatnya yang wah, kemungkinan besar ia punya asumsi bahwa Gereja adalah sebuah tontonan yang layak dikagumi, tapi tak menarik untuk dihidupi!

Pewartaan kabar baik tidak dimulai dari status yang nyaman, tetapi dari tantangan yang menyulut orang untuk merealisasikan kabar baik itu. Pewartaan Injil tidak dimulai dari konferensi akademik, tetapi justru dari jalanan, pasar, medan yang mungkin ancur. Orang yang senantiasa mulai dari kesalahan, kerapuhan, kehancuran, kelemahan orang lain, ia tak pernah mewartakan kabar gembira. Evangelisasi tidak dimulai dari blog, tetapi dari passion pembacanya untuk menerjemahkan Sabda Bahagia dalam pikiran, tutur kata, maupun tindakannya sebagai apapun: teknisi, kepala keluarga, dokter hewan, pastor, anggota dewan.

Ya Allah, semoga aku berani memulai perubahan dari diriku sendiri. Amin.


HARI BIASA SETELAH PENAMPAKAN TUHAN C/2
Senin, 4 Januari 2016

1Yoh 3,22-4,6
Mat 4,12-17.23-25

Posting Tahun Lalu: Gantian Dong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s