Museum Allah

Tidak terlalu sulit, sejauh ada uangnya, memilih oleh-oleh cindera mata dari tempat wisata yang kita kunjungi bagi kerabat kerja atau sanak saudara yang memintanya (kadang dengan paksa). Memberi oleh-oleh macam itu seringkali merupakan ‘formalitas’ sopan santun belaka. Pokoknya asal ada di toko oleh-oleh, khas kota yang kita kunjungi, selesai perkara. Ini beda halnya dengan memberi hadiah yang sebenarnya, yang tidak bisa direduksi dengan besaran nilai uang atau fungsionalitas barang tertentu: hadiah yang mewakili kekhasan diri kita sendiri yang bisa jadi jalur komunikasi bagi orang lain.

Teks yang diambil hari ini bicara mengenai tiga orang bijak yang membawa hadiah bagi bayi Yesus: emas, dupa, dan mur. Sangat simbolik: kedudukan mulia, martabat ilahi, dan potensi kematian yang dibawanya sebagai manusia. Akan tetapi, kalau mau fair, bisa kita lihat juga tiga risiko yang tak kalah simbolik. Dengan pengandaian bahwa Yesus diterima sebagai Kristus, bisa kita lihat bahaya bahwa Tuhan diperlakukan sebagai barang museum: disepuh emas, didupai supaya terasa suasana mistisnya, dan diolesi formalin (salah satu fungsi mur) biar awet!

Ada godaan bagi orang beragama untuk ‘menyepuh’ Tuhan, ‘mendupai’ Tuhan, dan ‘membalsami’ Tuhan. Memang sepuh emas itu ya tampak bagus, dupa itu elegan megah menawan, dan balsam itu mengawetkan. Akan tetapi, itu semua bisa jadi membuat Tuhan bukan lagi sebagai objek penyembahan, melainkan objek barang museum tadi: statis, gak aktif bergerak, tak bernyawa, tanpa Roh. Tak ada yang lebih menyedihkan bagi orang religius daripada menempatkan Tuhan sebagai objek museum (entah apapun koleksinya) yang tak bisa berkomunikasi dengan penyembah-Nya sendiri. Itu malah menjadikan Allah sebagai ilah.

Lha memangnya bagaimana toh supaya Tuhan itu tak jadi barang museum? Tak ada jalan selain jalan interioritas, pengetahuan batin, sebagaimana ditunjukkan tiga orang majus itu sejak memilih hadiah bagi bayi Yesus. Mereka memilih hadiah yang sungguh merupakan ungkapan dari kedalaman batin. Mereka pun mendengarkan suara batin yang datang dalam mimpi untuk mencari jalan pulang yang berbeda sehingga tidak memberi umpan matang pada Herodes si pemangsa.

Ya Tuhan, mampukan aku mendengar suara-Mu dalam batinku. Amin.


HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN
Minggu, 3 Januari 2016

Yes 60,1-6
Ef 3,2-3a.5-6

Mat 2,1-12

Posting Tahun Lalu: Pesta Para Pencari Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s