Mana Suaranya?

Salah satu godaan atau tantangan bagi pemimpin ialah bagaimana menjaga konsistensi pada visi misi yang menghidupi habitatnya. Ini tak beda jauh dari kompetisi liga sepakbola: tim yang konsistenlah yang biasanya memenangi kejuaraan. Konsistensi ini tidak bergantung pada baik buruknya penampilan tim lain, tetapi pada bagaimana suatu tim memenuhi visi misinya.

Yohanes Pembaptis yang ditampilkan dalam teks hari ini adalah sosok yang baru muncul setelah sekian lama bangsa Israel tak memiliki nabi besar. Tak mengherankan juga bahwa umat Israel mengira Yohanes ini adalah sosok Mesias yang mereka nanti-nantikan. Yohanes menjadi leader yang sedemikian mengesan bagi pengikutnya sehingga bahkan setelah dibunuh pada sekitar tahun 30 pun, kenangan akan dirinya tetap hidup. Salah satu kelompok pengikut Yohanes ini dijumpai Paulus pada tahun 50-an di Efesus, Asia Kecil. Syukurlah, mereka masih merekam kata-kata Yohanes sendiri yang menegaskan bahwa dia bukanlah Mesias yang dinantikan bangsa Israel. Ia menyiapkan kedatangan Mesias itu. Tak mengherankan, murid-murid Yohanes itu bersedia menerima baptisan lain yang menyekutukan mereka dengan Yesus Kristus (bdk. Kis 19,1-5).

Kerendahan hati Yohanes Pembaptis menular juga pada pengikutnya itu. Konsistensi Yohanes Pembaptis pada identitas dirinya membuat mereka yang dilayani tak terpeleset pada penyembahan berhala.
Kalau begitu, Yesus membuat banyak orang terpeleset dong ya karena mereka mengakui Yesus sebagai Mesias, bahkan menyebutnya sebagai Tuhan?! Dia kan cuma utusan Allah seperti nabi yang lainnya. Sik sik sik, pelan-pelan. Pernyataan itu sudah beda pijakannya, jadi tak perlu dibahas di sini.

Mari kita fokus pada insight yang bisa kita gali dari Yohanes Pembaptis saja. Ia disodori identitas yang dikatakan orang lain tetapi ia tetap sadar diri akan identitas yang sebenarnya. Baginya ‘apa kata orang’ tidaklah jauh lebih penting daripada pengetahuan batin yang dimilikinya tentang diri sendiri. Autentitas, kesadaran batin itu jadi seperti syarat bagi orang untuk mengalami perjumpaan dengan Allah.

Sayangnya, dunia kita ini secara brutal sudah semacam kena anestesi rohani yang membuat orang tak mampu berinstrospeksi, berefleksi, memaknai pengalamannya dengan terang relasi dengan Tuhan. Examen conscientiae menjadi sangat langka, tak tersentuh oleh orang zaman kini sehingga meskipun pengalamannya bejibun, tak ada yang ‘berbunyi’ di relung hati dan hanya muter-muter di koridor intelektual. Relung hati berbunyi tapi cuma karena disetir oleh aneka sensasi dan tak ada komprehensi atas misteri kehidupan sendiri. Orang tak punya waktu lagi untuk hening berefleksi, berdoa, dan iman paling banter hanya berarti ritualisme.

Yohanes Pembaptis menyadari diri sebagai suara yang berseru, suara yang mendorong orang mencari sosok pengantar kepada Allah sebagai Bapa, yang memungkinkan seluruh makhluk sebagai saudara dan bukannya monster. Suara orang zaman ini mungkin menyerukan sesuatu yang lain, yang memang secara verbal memuat kebesaran Allah, tetapi ternyata substansinya ialah kebesaran diri: kamu mesti berhasil, kamu pasti bisa, harga dirimu ada pada kesuksesanmu itu. Orang bisa memanipulasi gen, mengubah mekanisme alam, dan lambat laun menggantikan Allah sendiri.

Tuhan, semoga kami dapat saling meneguhkan dalam perbedaan kami untuk memuaskan kerinduan kami akan Dikau. Amin.


HARI BIASA MASA NATAL
Peringatan Wajib St. Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze
Sabtu, 2 Januari 2016

1Yoh 2,22-28
Yoh 1,19-28

Posting Tahun Lalu: Mau Menyuarakan Apa atau Siapakah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s