Tahun Haram

Kepada beberapa tukang parkir hari ini saya ucapkan selamat Tahun Baru dan tak seorang pun membalas ucapan itu, tapi saya gak gitu-gitu banget sih, wong itu juga cuma basa basi dan tak lazim. Bahkan mungkin bukan cuma tak lazim, melainkan juga terlarang. Saya gak yakin bahwa tukang-tukang parkir itu berpikir soal haram-haraman. Semua hari ya sama saja. Ucapan selamat Tahun Baru tak ada relevansinya.

Terus terang, curcol, itu seperti kalau dalam misa di gereja Katolik ada bagian Salam Damai. Saya tak tertarik, bukan karena saya tak ingin menyampaikan salam damai, melainkan karena saya rasa tak semua yang menyatakan damai itu memang hendak mengungkapkan damai dari Tuhan. Kebanyakan melakukannya karena kebiasaan: orang bersalaman tapi matanya entah ke mana juntrungnya. Tapi ini tak usah dibesar-besarkan. Banyak orang hidup karena status, pencitraan, uang, gengsi, dan sejenisnya. Ini berita basi.

Yang belum basi barangkali adalah refleksi Paus Fransiskus di Hari Perdamaian Sedunia ini: damai dirongrong oleh fenomen yang disebutnya sebagai globalisasi abai, globalisasi acuh tak acuh, globalisasi ketidakpedulian (bdk. globalized indifference). Dimensi sikap acuh tak acuh bukan lagi personal, melainkan merasuk dalam struktur atau sistem impersonal: ideologi yang mengabaikan kenyataan bahwa Allah itu hidup. Ideologi ini, kalau memuat pengakuan akan eksistensi Allah, mencabut peran Allah dalam hidup manusia. Ujung-ujungnya: humanisme semu dan materialisme praktis yang erat kaitannya dengan relativisme dan nihilisme.

Paus Fransiskus menguraikan hal itu dengan contoh sederhana bagaimana orang punya aneka macam informasi atau pengetahuan, tetapi keduanya tidak dipakai untuk merealisasikan keberpihakan terhadap lingkungan yang pantas dihuni bagi semua orang. Orang tak mau berpikir dengan horison kepentingan bersama, tetapi cupet dengan pola pikir individualistik: selesaikan dulu lu punya problem sebelum mikirin problem orang lain. Orang terus dibuat lupa bahwa problem individu tak pernah lepas dari problem kolektif, dan sebaliknya, sehingga bahkan dalam keterbatasan problematika hidupnya, orang tetap dimungkinkan mengurai problemnya sendiri justru dengan melibatkan diri pada problem orang lain. Ini tentu bukan soal campur tangan, melainkan soal solidaritas.

Jika orang abai terhadap Allah, ia pasti abai terhadap persoalan ketidakadilan sosial. Ia bisa saja tetap taat beribadah dan hidup saleh, tetapi memang abai terhadap Allah juga dimiliki oleh orang-orang yang akrab dengan ritualisme! Ujung-ujungnya nanti ya konflik, entah dalam lingkup internal ataupun eksternal. Maka, salam damai itu omong kosong tanpa ada konkretisasi keterlibatan orang dalam persoalan bersama: martabat manusia, lingkungan hidup.

Barangkali globalisasi abai itu terjadi justru karena orang memegang begitu kaku ideologi naif tentang Allah sendiri. Ya, orang sudah berpuas diri dengan aneka sifat maha dari Allah: mahakuasa, mahatahu, mahabesar, dan lain sebagainya. Di hadapan Allah yang mahabesar, justru sosok-sosok dalam Kitab Suci hari ini terlihat diam. Maria menyimpan dalam hati atas misteri yang tak tertanggungkan oleh otak: bagaimana Allah yang mahakuasa itu menghadirkan Diri dalam kerapuhan manusia. Yusuf tak digambarkan omong sesuatu tentang bayinya.

Andaikan saja setiap orang menyadari kerapuhannya (dan dengan demikian juga kerapuhan sesama), niscaya orang melihat peluang kebesaran Allah justru dalam solidaritas untuk melawan kultur ketidakpedulian. Dalam membantu orang lain memecahkan persoalannya, kita bisa memecahkan persoalan hidup kita sendiri. Ini bukan soal haram, melainkan soal rahim dan ini adalah tahun kerahiman itu.

Tuhan, semoga damai-Mu sungguh terwujud dalam keterlibatan kami untuk merawat dunia yang tercabik-cabik oleh materialisme dan individualisme ini. Amin.


HARI KEDELAPAN OKTAF NATAL
Hari Raya Santa Maria Bunda Allah
Jumat, 1 Januari 2016

Bil 6,22-27
Gal 4,4-7

Luk 2,16-21

Posting Tahun Lalu: Pernah Serius Mikir?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s