Panggung Sandiwara

Mengapa takjub oleh istri presiden yang naik pesawat kelas ekonomi dan menantunya yang periksa kehamilan ke klinik biasa? Mengapa orang salut pada menteri yang makan di warteg? Entahlah, tanyakan saja kepada mereka yang takjub dan salut. Pada masyarakat yang tak akrab dengan kesederhanaan, hidup bersahaja (yang tentu berarti biasa saja) malah mengundang rasa heran. Masyarakat konsumeris terus mendongakkan kepala dan jika yang dilihatnya turun, mereka malah terheran-heran (karena berpikir bahwa normalnya orang bergerak ke atas: kesuksesan, keberhasilan, kemewahan, kekayaan, ketenaran, dan semacamnya).

Bacaan Injil hari ini menyodorkan silsilah. Dalam masyarakat paternalistik, yang masuk dalam silsilah adalah nama laki-laki. Akan tetapi, menarik bahwa penulis Injil Matius memasukkan lima perempuan: Tamar, Rahab, Rut, istri Uria (i.e. Batsyeba), dan Maria, ibu Yesus. Mengapa penulis menyebut empat perempuan dalam silsilah leluhur Maria itu? Mereka bukan nabi, bukan ratu, bukan pejuang kondang. Mereka adalah orang asing, yang dalam masyarakat Yahudi saat itu dikategorikan sebagai kaum pinggiran.

Tamar, perempuan Kanaan, janda, menyamar jadi pelacur dan mengandung dari mertuanya, Yehuda (Kej 38,1-30). Rahab, perempuan Kanaan dari Yeriko, adalah pelacur yang membantu orang Israel masuk ke tanah terjanji (Yos 2,1-21). Kisah Rut, janda miskin dari Moab yang senantiasa bersama Naomi (Rut 1,16-18) mirip-mirip dengan kisah Tamar yang membuahkan leluhur Raja Daud (Rut 3,1-15; 4,13-17). Batsyeba, istri panglima perang Israel, ditiduri Raja Daud yang kemudian membuat konspirasi untuk membuat Uria mati terbunuh (2 Sam 11,1-27). Cara bertindak empat perempuan itu tidak klop dengan aturan adat masyarakat saat itu, dan untuk ukuran sekarang pun rasanya gimanaaaa gitu.

Begitulah leluhur Yesus dan leluhur ras manusia! Allah nan maharahim memakai ketidaksempurnaan manusiawi dalam sejarah untuk merenda kesempurnaan yang bermuara pada Yesus. Dalam teologi kristiani, sejarah ‘hanyalah’ dinamika dalam ruang-waktu yang mengakomodasi dua fakta yang bersinggungan. Yang satu adalah kronik, yang biasanya pada akhir tahun dilaporkan dalam bentuk kaleidoskop. Di situ orang melihat urutan aneka peristiwa. Yang lainnya adalah cetak biru Allah yang jadi latar belakang. Mungkin lebih gampang dua fakta itu dibayangkan sebagai antarmuka pada monitor yang bisa kita utak-atik dengan program tertentu dan sistem operasi yang bekerja pada background untuk menyokong program tersebut.

Jika melihat seluruh sejarah hidup Anda, akan Anda temukan rentetan kronik atau macam-macam tampilan pada panggung hidup Anda. Akan tetapi, pada akhirnya Anda mengerti bahwa tak satupun dari kronik itu yang tidak menjadi panggung Allah sendiri. Kronik itu adalah misteri yang terkuak dalam hidup Anda. Entah Anda PNS, anggota DPR (yang dipecat), mahasiswa (abadi), pengangguran, pada kenyataannya Anda bukanlah hanya itu: Anda disisipkan dalam sejarah untuk menguak Kristus dalam keluarga, parpol, sekolah, dan sebagainya. Kristus memberi makna pada kronik panggung hidup Anda. Bagaimana permainan dalam panggung hidup itu, bergantung pada relasi Anda dengan Kristus.

Ya Allah, berilah aku kekuatan untuk menguak misteri Kristus dalam hidupku saat ini dan di sini. Amin.


HARI BIASA KHUSUS ADVEN
Kamis, 17 Desember 2015

Kej 49,2.8-10
Mat 1,1-17

Posting Tahun Lalu: Friend Request from God

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s