Kau Tercipta untuk ‘Ku

Judul posting ini adalah judul lagu melow yang saya pura-pura tak tahu saja kapan populernya, supaya gak ketauan berapa umur saya, haaaaa [padahal semua juga sudah tahu umur saya 27 tahun].
Sudah sejak zaman Yesus, bahkan sebelumnya, substansi tema lagu melow ini populer. Yohanes Pembaptis yang dipenjara dalam teks hari ini dikisahkan mengutus dua muridnya untuk memastikan apakah Yesus itu sungguh orang yang tercipta sebagai Mesias bagi bangsa Israel atau bukan. Sayangnya, Yesus tidak menjawab secara jelas ya atau bukan, dan itu malah masuk akal. Kalau Mesias sendiri memastikan “Akulah Mesias itu”, njuk bagaimana orang tahu klaim itu valid? Semua orang bisa saja kan bilang “Akulah Mesias”? Yesus tidak menjawab dengan klaim kebenaran. Ia menjawab pertanyaan Yohanes dengan kondisi-kondisi untuk validasi klaim itu dan membiarkan si penanya menyimpulkan sendiri.

Substansi tema lagu melow itu tentu juga dihidupi orang zaman ini. Contoh yang pating tlecek alias ada di mana-mana ialah bagaimana seorang anak gadis atau jejaka menantikan datangnya jodoh. Alih-alih belajar mengerti dan mengembangkan komitmen dalam berelasi, orang melow (yang tidak perlu dibayangkan sebagai sosok berwajah sendu) dari waktu ke waktu menunggu sosok orang yang tercipta untuknya yang sesuai dengan shopping list di kepalanya: tingginya sekian, motornya tipe ini, gajinya di atas sekian, kulitnya begini, dari ras, suku, agama ini, orangnya pengertian dan bla bla bla. Pribadi orang lain dijadikan objek yang memenuhi kriteria shopping list tadi, sementara dari pihaknya sendiri sudah ada harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Memang selayaknya orang membawa shopping list dengan prioritas tertentu, tetapi jika semua-muanya mesti dicocokkan dengan shopping list dari atas sampai bawah, bisa jadi sampai kiamat pun Mesias itu tak datang alias sosok “Kau tercipta untukku” itu tak datang-datang. Alih-alih sibuk dengan pencocokan shopping list, lebih baik orang mereposisi shopping listnya dan memenuhi kriteria Mesias yang membebaskan, memerdekakan orang dari belenggu diri sendiri dan ikut membangun kondisi-kondisi yang memungkinkan Mesias itu datang: keadilan bagi semua orang. Di mana keadilan tak mendapat respek, martabat manusia dan negara takkan lebih dari gerombolan maling dan perampok ‘saham’.

Alih-alih mengobjekkan Allah dan sesama (debat mengenai kebenaran agama, berupaya membela agama misalnya), lebih baik orang beriman mencari celah untuk membangun relasi dan komitmen dengan Allah dan sesama itu. Relasi dan komitmen itu hanya mungkin terjadi jika orang dapat menyambungkan apa yang dikoar-koarkannya sebagai nilai-nilai luhur dengan tutur kata dan tindakannya. Tanpa integritas, takkan pernah datang Mesias, takkan pernah terjadi bahwa Allah masuk dalam sejarah.

Siapa sih yang bisa mengklaim punya integritas sempurna? Bahkan Yesus pun tidak menjawab Yohanes: akulah sosok berintegritas tinggi itu. Ia hanya menunjukkan apa yang ia buat dan akhirnya malah sempurnalah integritasnya dengan kematiannya (Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya, Yoh 15,13 ITB).

Ya Allah, bukalah mata hatiku supaya aku semakin melihat arah hidupku kepada-Mu dalam aneka pilihanku. Amin.


HARI RABU ADVEN III
16 Desember 2015

Yes 45,6b-8.18.21b-25
Luk 7,19-23

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s