Jamu Jarak

Judul ini, akronim dari jaga mulut jangan rakus, diungkapkan seorang dokter pemrakarsa rumah sakit apung, dr. Lie Dharmawan, yang untuk sekian lama melihat dan mendengar panggilan batinnya untuk membantu masyarakat miskin di tempat-tempat terpencil, tetapi ia tidak semerta-merta menanggapinya secara positif. Dalam doanya ia seolah menghindari panggilan suara batinnya itu: jangan saya, Tuhan; saya tak sanggup; orang lain saja. Apakah ia jahat karena berkata tidak itu? Tidak, karena akhirnya ia berkata ‘ya’ terhadap panggilan batinnya itu. Seseorang tidak dikatakan jahat hanya karena tak punya keinginan untuk berbuat baik. Baru disebut jahat jika ia terus menerus menolak untuk berbuat baik.

Teks Injil hari ini berisi cerita sederhana: dua orang anak diminta bekerja, yang satu bilang ‘siyap boss‘ tapi ongkang-ongkang doang dan yang lain bilang ‘ogah‘ tapi akhirnya pergi bekerja. Orang tak perlu kuliah untuk bisa mengerti bahwa tindakan anak kedua inilah yang terpuji. Orang sederhana dengan mudah bisa mengerti pepatah “Orang benar sedikit janji banyak aksi, orang jahat banyak omong aksi kosong”. Kitab Suci sendiri tegas mengenai hal itu: Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga (Mat 7,21 ITB). Akan tetapi, membaca teks Injil tidaklah cukup bermodalkan niat untuk menggali nasihat moral mengenai mana yang jahat dan mana yang baik atau lebih baik. Dengan modal itu, orang yang legalistik akan segera tahu bahwa para pemungut cukai dan pelacur adalah sampah masyarakat dan mereka yang memenuhi perintah agama adalah orang yang minimal niatnya baik.

Dalam Kerajaan Allah tak ada segmentasi dengan tolok ukur perintah agama: semua saja diundang untuk mendengarkan warta pertobatan dan menyempurnakan pendengaran itu dengan tindakan tobat. Narasi hari ini menyinggung dua kelompok ‘alim ulama’ dan ‘sampah masyarakat’ itu, tetapi tidak untuk menilai mana yang bermoral baik dan mana yang tidak bermoral baik. Tolok ukurnya bukan norma moral masyarakat, melainkan warta pertobatan yang diserukan Yohanes Pembaptis. Rupanya yang mendengarkan warta Yohanes bukanlah kelompok ‘alim ulama’ (karena merasa diri sudah benar), melainkan kelompok ‘sampah masyarakat’ (yang sungguh ingin bebenah diri).

Yesus pun tidak mengatakan bahwa kelompok alim ulama itu takkan masuk Kerajaan Allah. Ia hanya mengatakan bahwa pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului mereka masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mereka tetap punya kesempatan untuk menjawab ‘ya’ terhadap panggilan Allah dalam batin. Setiap orang diberi kesempatan tobat tanpa batas (itu mengapa hukuman mati tak sinkron dengan inspirasi Injil).

Allah yang maharahim, berilah kami keberanian untuk mengubah jawaban ‘tidak’ terhadap panggilan-Mu dengan tindakan yang selaras Sabda-Mu. Amin.


HARI SELASA ADVEN III
15 Desember 2015

Zef 3,1-2.9-13
Mat 21,28-32

Posting Tahun Lalu: Orang Beriman Gak Kebal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s