Religious Lag

Jet lag, sebagian besar dari kita sudah pernah dengar: extreme tiredness and other physical effects felt by a person after a long flight across several time zones. Maksudnya, kecapekan yang dialami orang yang kebanyakan main basket di Timezone, haaaa krik krik krik.
Religious lag, belum pernah saya dengar, tetapi kiranya bisa dikategorikan dalam suatu institutional lag: sensitivitas atau tingkat responsif suatu lembaga yang rendah terhadap perubahan yang diperlukannya untuk memberi kontribusi kepada masyarakat. Saya tak tahu apakah institutional lag ini baik dipelihara oleh lembaga agama, tetapi saya bisa mengerti bahwa sebagai institusi, agama kerap terlambat menyuarakan nilai yang diperjuangkannya dalam ranah publik. Bahkan Konsili Vatikan II pun tidak otomatis mendorong perubahan secara menyeluruh dalam Gereja Katolik. Di sana sini masih ada saja kelompok yang memelihara romantisme dengan hidup kesalehan pra-Konsili.

Teks hari ini konteks dekatnya ialah Yesus yang mengusir pedagang yang melakukan pelecehan Bait Allah sebagai tempat bisnis dan rupanya ajaran Yesus menarik minat banyak orang Yahudi. Alim ulama, imam-imam kepala, para sesepuh bangsa Yahudi gemas dengan hal itu karena Yesus jelas tidak menempuh jalur akademik untuk memberikan pengajaran. Kok bisa orang yang tidak nyantrik pada otoritas keagamaan itu didengarkan banyak orang? Ini jangan-jangan kuasa Beelzebul yang menyamar dengan ajaran-ajaran tertentu yang menarik banyak orang!

Saya kira Yesus tidak hendak meremehkan otoritas religius yang diperoleh karena disiplin akademik tertentu. Akan tetapi, memang kelihatan bahwa proyek keselamatan Yesus menimbulkan tantangan bagi otoritas religius saat itu. Tantangan ini juga muncul kembali saat para pengikut Yesus berhadapan dengan otoritas kekaisaran pada saat Injil itu ditulis. Dalam situasi konflik itu, orang bisa saja kompromistik dan kehilangan orientasi karena dikendalikan oleh otoritas kekaisaran. Orang tunduk pada otoritas karena takut penganiayaan, misalnya (bdk. Gal 6,12). 

Yesus menaruh respek pada otoritas religius, tetapi ia tak kehilangan fokus pada basis otoritas religius yang benar: pertobatan dari hati. Jalan keselamatan hanya terbuka dari Sabda Allah dan cinta-Nya, bukan dari otoritas yang hendak mengatur atau mengendalikan segala-galanya seturut pikiran mereka belaka. Alim ulama yang datang menanyai Yesus kentara sekali: tak mau mengakui kenabian Yohanes Pembaptis (karena dengan demikian berarti juga menyokong Yesus), tetapi takut pada orang banyak yang percaya pada Yohanes Pembaptis. Kelihatan bahwa hati mereka tertutup oleh pikiran yang picik sehingga tak mengalami perubahan. Itulah religious lag, dan mungkin mereka tidak sekadar mengalami religious lag, tetapi juga kebutaan rohani sampai mati.

Ya Tuhan, buatlah aku semakin yakin bahwa jalan keselamatan hanya bisa dititi dari hati yang senantiasa mau bertobat. Amin.


HARI SENIN ADVEN III
Peringatan Wajib St. Yohanes dari Salib
14 Desember 2015

Bil 24,2-7.15-17a
Mat 21,23-27

Posting Tahun Lalu: Ketika Modus Jadi Bumerang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s