Jadi Aku Mesti Gimana?

Anda mungkin sering mendengar pembawa acara mempersilakan pembicara dengan kalimat aneh. Misalnya: waktu dan tempat kami persilakan. Piye jal, ini orang menyuruh waktu dan tempat untuk tampil di panggung atau bagaimana?
Ungkapan lain mungkin sedikit lebih masuk akal: waktu dan tempat kami haturkan. Maksudnya tentu ia memasrahkan waktu dan tempat kepada pembicara. Akan tetapi, siapa orang yang punya waktu dan bisa memasrahkannya pada orang lain? Nemo dat quod non habet: tak seorang pun memberikan sesuatu yang tak dipunyainya. Halah, gitu aja dibahas! Kita semua tahu bahwa itu salah kaprah. Oh, sudah tahu toh? Maaf, kirain gak pada tau.

Ada tiga kelompok orang yang melontarkan pertanyaan kepada Yohanes Pembaptis: untuk bertobat itu, kita mesti ngapain? Yohanes memberi jawaban konkret. Kepada kelompok pertama, orang banyak, dia bilang kurang lebih,”Jika kamu mau Allah yang mahabesar itu masuk dalam dunia ini, yang punya lebih banyak, berbagilah dengan mereka yang tak punya apa yang mereka butuhkan.” Ini terkait dengan dosa yang dalam doa tobat diistilahkan sebagai ‘kelalaian’, yaitu saat kita sebenarnya bisa melakukan kebaikan tetapi kita mengabaikannya. Kenapa orang bisa mengabaikannya? Karena ia lebih berfokus pada semangat menumpuk modal daripada semangat sharing. Ini bukan soal memberi sedekah kepada pengemis. Ini jauh lebih besar dari itu: orang mesti membuka hati yang terkatup karena orientasi menumpuk modal. Coba gimana cinta Allah mau mencuat dari hati yang tertutup terhadap penderitaan sesama? Hidup ilahi dalam hati orang menampakkan dirinya jika hati itu terbuka. Indikatornya adalah sharing dalam persaudaraan tadi.

Kepada kelompok kedua, para pemungut cukai, Yohanes tidak mengatakan supaya mereka beralih profesi ke jenis pekerjaan yang ‘lebih bersih’. Saya kira Yohanes pun mengerti bahwa pajak tentulah dibutuhkan demi pelayanan publik supaya mekanisme sharing tadi terjamin juga dalam lingkup luas, bukan semata urusan kesalehan orang per orang. Dalam profesi yang menyangkut kepentingan publik itu, pesan Yohanes kurang lebih berbunyi: jangan minta saham! Hahaha…. Maksudnya, peliharalah kejujuran, jangan lagi mengambil sesuatu yang tidak semestinya menjadi ‘jatah’-mu, alias korupsi! Ini tentu tidak eksklusif milik pegawai pajak. Coba lihat bagaimana orang berjualan, misalnya. Tidak semua berjualan untuk menjual sesuatu yang dibutuhkan orang dan memberi harga sewajarnya untuk ganti produksi dan jasa. Orang memperalat konsumen untuk mengeruk uang dengan aneka tipu daya diskon yang membodohi pembeli. Sebagian orang menjual diri untuk uang. Lagi-lagi uang, yang bisa mempermiskin orang.

Kepada kelompok ketiga, para tentara yang merepresentasikan orang yang punya kekuasaan dan kekuatan, Yohanes mengatakan supaya kuasa dan kekuatan itu tidak dipakai untuk merampas atau memeras rakyat karena merasa gajinya tak mencukupi. Hmm… apa Yohanes ini tidak tahu ya bahwa gaji tentara tidak layak? Hehe… saya juga tidak tahu, siapa juga yang menentukan layak dan tidak? Prinsipnya seperti pokok kedua tadi, janganlah korupsi atas kuasa dan kekuatan. Militer dan penguasa tidak dimaksudkan untuk menindas rakyat (yang adalah manusia), melainkan melangsungkan sistem sharing tadi berjalan. Maka, penyalahgunaan otoritas dan kekuatan bakal memblokade saluran cinta Allah juga.

Tuhan, semoga aku semakin mengerti keluhuran martabat pribadi manusia sebagai citra-Mu. Amin.


HARI MINGGU ADVEN III C/2
13 Desember 2015

Zef 3,14-18a
Flp 4,4-7
Luk 3,10-18

Hari Minggu Adven III B/1: Natalan??? Pikirrrr!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s