Mana Komitmennya

Anda pernah dengar keterangan “Teknik dan montase: Indra Mahendra”? Saya mendengarnya sebelum serial Saur Sepuh menjadi populer di luar Jakarta. Seandainya saja saya punya ketrampilan montase seperti Indra Mahendra, akan saya montase momen di istana negara dan panggung lainnya: momen lelucon pelawak di ruang makan presiden dan momen dhagelan di rumah mamah konco dhewe. Akan saya comot lelucon-lelucon di rumah mamah tadi dan tawa lepas presiden sampai menutupi wajahnya dengan kain putih atau memegang perutnya yang sakit karena tawanya. Tawa presiden dalam montase itu sebenarnya memuat representasi kemarahan, kepedihan, keprihatinan, kejengkelan, kegemasan, dan aneka perasaan negatif lain terhadap mutu dhagelan di panggung mamah konco dhewe.

Sidang mamah konco dhewe tentu bukan satu-satunya panggung yang bisa dimontase dengan tawa renyah di ruang makan istana negara. Ada banyak panggung lain yang sebagai bagian dari panggung seluas dunia bisa juga dipakai media, entah oleh pelakunya disengaja atau tidak, untuk menutup layar panggung lainnya. Bersama dengan sidang mamah tadi muncul juga panggung prostitusi online yang konon melibatkan artis (ya ampun artis… adakah hal lain yang bisa dikerjakan selain ngartis?) atau seteru online yang juga melibatkan artis (biasanya satu laki-laki dan minimal dua perempuan, mohon dikoreksi kalau keliru). Panggung ini adalah pelecehan atas panggung yang bersetting waktu lebih dari 2000 tahun lalu.

Adalah sosok Mang Ucup yang kemudian populer dengan sebutan Santo Yusuf. Sudah bertunangan dengan Maria dan pada masa pertunangan itu terjadilah hil yang mustahal: Maria hamil! Padahal, Mang Ucup ini babar blas gak pernah berbuat lebih dari peluk cium. Bahkan french kiss pun tidak, wong waktu itu belum ada negara Perancis (halah). Bisa jadi suasana batin Mang Ucup saat itu mirip dengan aneka macam talk show kontemporer yang mengumbar ranah privat ke ruang publik: omong ngalor-ngidul gak karuan yang berintikan pokoknya itu tak bisa diterima dan harap maklum inilah yang harus kuambil. Jodoh, rejeki, hidup ini di tangan Yang di Atas, jadi ‘diterima saja’ dan….. pemain sandiwara ini tak sadar bahwa keputusan yang diambilnya itu berasal dari yang di bawah! Argumentasinya sih boleh membawa-bawa Yang di Atas atau ayat-ayat Kitab Suci, tapi pokoknya ujung-ujungnya ‘terserah gw donk!

Yusuf tidak mengambil keputusan sendiri dan apa yang dilakukannya merintis janji dan nubuat yang dituliskan dalam bacaan pertama hari ini. Dalam tulisan Yeremia itu diinsinuasikan bahwa Allah sebenarnya telah menghentikan pemerintahan penerus Daud yang semakin lama semakin jauh dari idealisme bangsa umat Allah. Israel seperti pohon yang sudah ditebang, menyisakan tunggulnya. Tetapi akhirnya dari tunggul itulah akan muncul Tunas adil bagi Daud.

Kemunculan Tunas itu tak mungkin terjadi jika Yusuf tidak mendengarkan kata-kata malaikat. Yusuf sendiri mempertimbangkan solusi yang fair sehingga Maria takkan menanggung celaka. Ini pertimbangan dari bawah juga. Pertimbangan ‘dari atas’ yang disampaikan malaikat menuntut komitmen dari dalam diri Yusuf untuk merealisasikan rencana keselamatan Allah. Ini adalah komitmen yang realisasinya sekarang ini bisa jadi objek tawa di ruang makan istana negara: ngakunya ber-Tuhan, tapi maunya mengklaim kebenaran sendiri; ngakunya beragama, tapi perilakunya anarkis…

Tuhan, semoga aku semakin peka mendengarkan panggilan-Mu. Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
Jumat, 18 Desember 2015

Yer 23,5-8
Mat 1,18-24

Posting Tahun Lalu: Terlanjur Married

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s