Di Sini, Bukan dari Sini

Penetapan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam dalam kalender liturgi Gereja Katolik dilakukan pada masa Perang Dunia abad lalu, saat Eropa sedang demam rezim totaliter, yang berpretensi mau mendominasi dunia secara absolut (Stalin, Lenin, Hitler, Musolini dan sejenisnya). Di sana-sini orang berusaha memperoleh kuasa untuk agenda pribadi dan kelompok mereka, juga dengan cara-cara kekerasan. Paus Pius XI menetapkan perayaan ini seolah-olah hendak menegaskan bahwa sejarah bukanlah bagian dari penguasa ini itu yang hendak menancapkan dominasinya dengan kekerasan.

History belongs to Christ. Raja-raja menjadi bagian sejarah semesta. Setiap upaya mereka memutlakkan kekuasaan atas sejarah itu akhirnya pupus, entah karena kekuasaan raja lain, entah karena usia hidup mereka yang terbatas. Ada jenis kekuasaan yang dominasinya tak terbatasi oleh kekuasaan raja lain atau oleh kekuatan temporal manapun di dunia ini. Wacana inilah yang mewarnai wawancara Pilatus dan Yesus, yang sejak awal woro-woro tentang datangnya Kerajaan Allah. Kata ‘Kerajaan Allah’ memang jadi istilah penting yang menunjuk pada kebaruan tata kehidupan di dunia ini. Tidak secara gampang bisa begitu saja dibilang sebagai ‘dunia lain’. Malah susah membayangkan hidup macam apa yang berbeda sama sekali dari hidup yang sekarang ini kita jalani.

Kepada Pilatus Yesus menjelaskan bahwa Kerajaannya bukan dari dunia ini. Itu tidak berarti bahwa Kerajaannya bukan di dunia ini. Ini yang kiranya disalahpahami oleh bahkan banyak pengikutnya (berpikir bahwa Kerajaan Allah itu soal nanti kelak di kemudian hari suatu saat entah kapan emboh ora weruh!). Kerajaannya ya di dunia ini (juga), tetapi bukan dari dunia ini. Halah… apa sih pentingnya di sama dari?!

Kerajaan yang disodorkan Yesus mesti direalisasikan di dunia ini, tetapi kriterianya tak pernah berasal dari dunia ini sendiri: dominasi, struggle for the fittestmajority rules, kompetisi, perang, kekerasan, dan sebangsanya. Bdk. misalnya, ayam jago yang melabrak ayam lain yang hendak mendekati ayam yang ditaksirnya atau lihat bagaimana orang berebut masuk gerbong kereta api saat penumpang dari dalam belum juga keluar.

Yesus memberi indikasi kepada Pilatus: kalau kerajaannya dari dunia ini, tentu saja pengikutnya angkat senjata, melawan gubernur, Kaisar, dan sebagainya. Ha ini mereka malah kabur kok. [Ingat juga bagaimana Yesus meminta Petrus menyarungkan pedangnya: kekerasan, perang, pedang bisa memenangi suatu kekuasaan, tapi akhirnya kuasa macam itu juga akan paripurna dengan pedang lainnya.]
Pilatus membuat konfirmasi lagi,”Jadi, kamu itu raja?”
Yesus menjawab positif, tetapi Pilatus ya tetap tak mengerti: wong raja kok tidak melawan, tidak berperang, tidak membela diri!

Pilatus hidup hingga sekarang: memakai kriteria dari bumi ini untuk mengerti Kerajaan Allah. Hasilnya nihil, tak paham sama sekali apa itu Kerajaan Allah. Orang ingin hidup damai, tetapi maunya mendominasi. Orang ingin hidup tenang, tetapi maunya mengatur segala sesuatu. Orang ingin mencinta, tetapi dengan memaksa. Orang mau rendah hati, tetapi menuntut orang lain. Orang mau hidup suci, tapi memelihara sikap perfeksionis. Orang mau bahagia, tetapi hidup dari memeras orang lain.

Tuhan, berilah kepekaan budi dan hati supaya yang mendominasi hidupku sungguh berasal dari-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXXIV B/1
Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam
22 November 2015

Dan 7,13-14
Why 1,5-8
Yoh 8,33b-37

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s