Dewa Munafik

Betul juga ya, kalau Anda di dunia ini menikahi tujuh laki-laki dan semuanya bukan nikah siri, siapa nanti yang jadi suami Anda setelah mati? Pertanyaan ini dulu dilontarkan oleh orang-orang Yahudi yang termasuk dalam kelompok Saduki. Mereka melontarkan kasus fiktif untuk memaparkan persoalan kebangkitan dalam terang hukum Taurat. Konon, kalau seorang perempuan menikah dan tak punya anak tetapi suaminya sudah meninggal, ia mesti menikah dengan saudara laki-laki suami itu. Nah, kalau sampai tujuh kali begitu, njuk nanti perempuan ini jadi istri siapa setelah kebangkitan? Waduh…

Orang Saduki itu merupakan tuan tanah dan pebisnis yang punya keyakinan konservatif. Sebetulnya kasus fiktif yang disodorkan itu hanyalah upaya mereka untuk mengejek irasionalitas kebangkitan (badan). Bisa juga sih pertanyaan itu dilontarkan dengan kasus kremasi: njuk kalo’ nanti ada kebangkitan (badan), badan mana yang dibangkitkan, wong akhirnya dikremasi kok?!
Tapi sudahlah, mari lihat orang-orang Saduki dulu deh. Mereka tak percaya pada kebangkitan dan meyakini suatu ideologi di balik ‘teologi kemakmuran’. Menurut mereka, keselamatan Mesias itu sudah datang dalam wujud kesejahteraan orang-orang yang mematuhi hukum agama (tentu saja seperti mereka). Kelimpahan harta menjadi indikasi bahwa hidup mereka diberkati Tuhan karena kesetiaan pada hukum Taurat. Jadi, tak perlu lari dari kenyataan ini dan terima saja bahwa kemelaratan atau penyakit itu datangnya dari perbuatan jahat dan penyimpangan orang dari hukum agama. Jadi? Untuk orang Saduki, ngapain mesti berubah, kan? Wong udah enak-enak kaya juga! Ini bukti bahwa Allah itu mahabaik. Hidup ini cuma sekali dan keselamatan ya ada dalam kesejahteraan hidup sekarang ini.

Jawaban Yesus bisa terdengar sengak: (1) kamu tak tahu apa-apa tentang kebangkitan badan dan (2) kamu bahkan tak tahu Tuhan itu macam mana! Ya memang. Kebangkitan Yesus adalah preseden yang saat itu tentu saja tak bisa ditangkap oleh orang Saduki saat itu dan saat setelahnya tak juga dipercayai kelompok lain. Kebangkitan Yesus tidak bisa dikerangkeng dalam pola pikir duniawi sekarang ini: mau dibilang yang bangkit itu badannya setelah disalib tapi kok bisa menarik orang-orang untuk mendekat (alih-alih ngeri melihat wajah berlumuran darah), mau dibilang yang bangkit itu badannya sebelum disalib tapi kok ada bekas paku pada tangan dan kakinya! Tubuh mulia itu… bagaimana mau dijelaskan kepada orang yang tak bisa lepas dari kerangkeng fisiknya, yang berpikir bahwa dunia setelah kematian ya sama dengan dunia sekarang ini?

Allah sudah menyatakan dalam penampakan-Nya kepada Musa melalui semak duri (yang bernyala tapi tak terbakar): Allah itu bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang yang hidup; dan semuanya hidup karena Dia dan bagi Dia. Dia hadir dalam udara yang memberi nafas, tetapi Dia lebih dari udara itu sendiri. Orang Saduki boleh saja mengatakan bahwa keselamatan itu hadir dalam kesejahteraan hidup mereka, tetapi jika keyakinan itu jadi ideologis (baca: menyatakan bahwa kemiskinan adalah kutukan Allah), Allah pun mati di situ! Tuhan mati terkubur ketika orang memelintir atau menipu orang dengan alasan suci. Semoga Ia bangkit di panggung politik Indonesia hari-hari ini.

Tuhan, semoga aku jadi umat-yang-hidup bagi-Mu. Amin.


HARI SABTU BIASA XXXIII B/1
Peringatan Wajib SP Maria Dipersembahkan kepada Allah
21 November 2015

1Mak 6,1-13
Luk 20,27-40

Posting Tahun Lalu: Satu Tuhan, Salam Tiga Jari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s