Alasan Suci Memicu Benci

Pernah ditawari olah kanuragan yang bisa memberi kemampuan luar biasa: melayang, bilokasi, membaca pikiran orang lain, menyembuhkan penyakit dan lain sebagainya? Menarik juga ya, apalagi olah kanuragan itu juga tampak mensyaratkan orang mengolah rohani dengan puasa. Yang fisik terhubung dengan yang rohani. Ini menarik saya, tetapi ketertarikan itu langsung pudar ketika mulai muncul angka uang yang dibutuhkan untuk setiap jenjangnya. Jika uang mutlak turut campur, rahmat Tuhan tak membaur.

Kapan uang mutlak turut campur? Ketika ia menjadi syarat keberlangsungan olah rohani. Lha memangnya sekarang ini apa yang bisa jalan tanpa uang selain kentut? Apakah olah rohani itu memang olah kentut? Mbok ya jangan sinis gitu. Ingatlah pedoman yang disodorkan Yesus sewaktu dijebak dengan pertanyaan membayar pajak pada Kaisar. Orang beriman perlu jujur atas hidup batinnya sendiri supaya tak dibelokkan oleh aneka macam ketidakmurnian. Semua orang juga tahu bahwa hewan korban itu dipelihara dengan uang; rosario dibuat dengan modal; perawatan tempat ibadat membutuhkan biaya, dan sebagainya. Itu semua bisa dihitung dengan rumus matematika, tetapi jadi lain soalnya jika dihitung dengan rumus bisnis penggali profit.

Penyucian Bait Allah yang dilakukan Yesus tentu tidak dimaksudkannya sebagai upaya untuk melarang orang berdagang hewan kurban di kompleks Bait Allah. Yang dikritiknya ialah mereka yang menarik profit tinggi (maklum, dengan legitimasi rohani orang bisa tergerak untuk merogoh kantong berapapun besarnya) bukan untuk keperluan rohaninya, melainkan untuk sogok sana sogok sini. Apakah ini hanya terjadi di Bait Allah pada masa hidup Yesus? Tentu tidak. Skandal indulgensi dalam sejarah Gereja Katolik mengulanginya: alasan suci jadi tameng politik. Ini tidak serta merta membuat politik jadi suci, tetapi malah memicu rasa benci. Bayangkanlah Anda rakyat jela(n)ta(h) yang dibela mati-matian oleh politikus yang hendak ngemplang uang pengusaha dengan dalih membela Anda, rakyat jela(n)ta(h), dan ternyata ia berhasil ngemplang perusahaan itu! Anda dimanfaatkan.

Apakah itu hanya berlaku untuk politikus busuk di negeri ini? Ya, politikus busuk itu adalah kita semua, saat kita tak lagi jujur terhadap gerak batin dan menutupinya dengan aneka macam rasionalitas semu demi mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan apa yang sesungguhnya membawa keadilan, kesejahteraan, kedamaian bagi semua.

Tuhan, bantulah aku untuk jujur pada diriku sendiri dan senantiasa berusaha memenuhi kerinduanku pada-Mu dalam setiap langkahku. Amin.


HARI JUMAT BIASA XXXIII B/1
20 November 2015

1Mak 4,36-37.52-59
Luk 19,45-48

Posting Tahun Lalu: Bisnisku Bukan Bisnismu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s