Imam Dukun

Protagonis kita hari ini bukan artis atau politikus, melainkan seorang imam. Namanya Zakharia. Orangnya sudah tua, tetapi belum dikaruniai anak. Keadaan ini saat itu seperti hidup tanpa berkat dari Allah, wong gak punya anak sampai usia ketika mereka tinggal bisa menunggu kematian mereka. Tetapi mau bagaimana lagi ya, seperti kisah dalam bacaan pertama, malaikat Tuhan datang memberi info soal kelahiran orang besar dari rahim perempuan mandul.

Menarik bahwa dalam dua kisah itu dimuat kata ‘takut’ yang diletakkan pada perjumpaan malaikat dengan istri Manoah dan Zakharia. Istri Manoah menuturkan bagaimana menakutkannya sosok malaikat yang mendatanginya. Zakharia diberi pesan supaya tidak takut. Itu berarti memang mereka mengalami rasa takut dalam perjumpaan dengan malaikat Allah itu. Tidak dikisahkan sesuatu yang negatif pada diri istri Manoah yang mengandung. Pokoknya ia mendengar info malaikat yang menakutkan itu dan kemudian ia hamil, mengandung anak laki-laki yang kelak jadi orang hebat yang dikaruniakan Tuhan.

Pada Zakharia kisahnya agak berbeda. Kiranya ia mengalami ketakutan atas kedatangan malaikat dan ketakutan itu bergerak menuju ketidakpercayaan. Atau, kalau mau sedikit lebih ‘baikan’ terhadap Zakharia, bisa dikatakan bahwa ketakutan itu merecoki Zakharia sedemikian rupa sehingga kepercayaannya kepada kuasa Allah tidak beranjak menjadi iman yang melibatkan orang pada proyek keselamatan Allah. Ironisnya, itu terjadi pada diri seorang imam!

Imam sangat identik dengan ritualisme dan ritualisme akrab dengan aneka rumus yang ditemukan sekelompok orang dengan klaim sebagai pemujaan terhadap Allah yang mahatinggi, sosok yang menakutkan sekaligus mengundang rasa takjub. Sayangnya, dalam pemujaan yang benar, tolok ukurnya bukan lagi rumus, melainkan keterlibatan umat beriman atau partisipasinya dalam rencana keselamatan Allah sendiri bagi dunia. Sebagian imam yang nyentrik menjadi ekstrem karena takut tak diterima umatnya, sebagian lagi jadi ekstrem karena takut dimarahi uskupnya.

Zakharia gagal mentransformasi ketakutannya menjadi keterlibatan. Ia menjalankan fungsi ritual, sebagaimana umat menerima ritual seperti dibuat dukun (variasinya saja yang berbeda), tetapi tidak menginternalisir nilai ritual yang sebenarnya. Tak sedikit orang tetap takut menceburkan dirinya dalam proyek keselamatan itu karena ancaman yang memang real. Dewasa ini masih dibutuhkan orang-orang yang memiliki keberanian (yang bukan berarti tak punya ketakutan) untuk berpegang teguh pada kebenaran sejati yang memperjumpakan Allah dan manusia secara autentik.

Ya Tuhan, bantulah aku untuk melampaui rasa takut dan melibatkan diriku dalam rencana keselamatan-Mu. Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
Sabtu, 19 Desember 2015

Hak 13,2-7.24-25a
Luk 1,5-25

Posting Tahun Lalu: Tong Kosong BerbuNyi NyiNyiR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s