Shalom Gombal

Saya punya teman pelawak yang bahkan memaknai namanya pun sudah membuat orang lain tertawa: waton muni yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti asbun (asal bunyi) atau bahasa kerennya the origin of the sound! [Thanks to Google Translate]
Saya tahu persis hidup teman saya ini tidak asal bunyi dan mungkin salah satu inspirasi yang digalinya adalah peristiwa kisah Injil yang dikutip hari ini. Ceritanya Maria mengunjungi Elisabet yang tengah hamil tua dan kutipan Injil hari ini berisi obrolan mereka berdua dalam perjumpaan yang mengharukan itu. Injil menggambarkan obrolan mereka seperti suatu permainan berbalas pantun, yang sekarang ini mungkin lazim dipakai oleh pemuka agama untuk lucu-lucuan menarik umatnya.

‘Pantun’ yang mereka sampaikan itu adalah kutipan Kitab Suci Perjanjian Lama dan perbincangan mereka seolah-olah merupakan obrolan dua ahli Kitab Suci. Hari ini dikutipkan ‘pantun’ yang disodorkan Elisabet. Mungkin ada baiknya dimengerti juga konteks dekatnya. Maria baru saja menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel: Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau (Luk 1,35). Ungkapan ini tak berbunyi untuk orang zaman sekarang, tentu saja, tetapi yang akrab dengan Kitab Suci akan mengerti bahwa kata ‘menaungi’ itu adalah terjemahan dari kenyataan penting dalam sejarah bangsa Israel.

Dulu tiang awan menaungi tenda yang di dalamnya ada tabut perjanjian (yang berisi pernik-pernik sebagai ‘bukti’ campur tangan Allah yang kelihatan dalam sejarah bangsa Israel: manna ‘roti dari surga’, tongkat Harun dan loh batu tempat perintah Allah dituliskan). Maka, jika sekarang Gabriel menyatakannya kepada Maria, itu berarti proklamasi bahwa sekarang tabut perjanjian itu ada dalam diri Maria. Dalam rahimnyalah yang dijanjikan Allah kepada umat-Nya itu berada. Maria lalu pergi bergegas menuju rumah Elisabet dengan penuh antusiasme untuk mewartakan kabar sukacita ini. Maka, kunjungan Maria kepada Elisabet kiranya tak perlu ditafsirkan secara naif sebagai kunjungan persaudaraan Maria yang hendak membantu Elisabet untuk menyiapkan kelahiran putranya.

Lukas menuliskan Injil untuk memberi pesan kepada jemaat perdana saat itu: wartakanlah segera kabar sukacita dari Allah yang telah kalian alami kepada mereka yang menantikannya, sebagaimana Maria bersegera menyampaikannya kepada Elisabet (yang tinggal di pegunungan; mengingatkan orang pada Daud yang mengungsikan tabut perjanjian ke gunung). Dalam teks hanya dikatakan Maria memberi salam kepada Elisabet; sesuatu yang lazim dilakukan, tetapi kalau Lukas sampai menuliskan kelaziman itu, tentu ada nuansa lain. 

Shalom berarti damai dan Maria membawa damai yang sesungguhnya: yang memberi kehidupan, yang membahagiakan, yang membuka orang pada rekonsiliasi dengan hidup yang dikehendaki Allah. Orang yang memakai kata shalom tetapi tak terbuka pada warta kegembiraan dan pertobatan itu layak memakai nama waton muni tadi.

Tuhan, semoga aku semakin dapat mengalami damai-Mu yang menggembirakan sekaligus senantias mengundang pada pertobatan untuk dapat menjadi tabut perjanjian-Mu seperti Maria. Amin.


HARI MINGGU ADVEN IV C/2
20 Desember 2015

Mi 5,1-4a
Ibr 10,5-10
Luk 1,39-45

Hari Minggu Adven IV B/1: Plesetan Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s