We are instruments

Natal dah lewat, tapi sisa-sisanya mungkin masih belum dibereskan (ada loh yang mengadakan acara natal pada masa biasa; mungkin orang beriman itu memang telmi). Kalender liturgi Gereja Katolik menandai hari ini sebagai awal masa biasa dan bacaan Injil dimulai dengan kisah panggilan murid dari tulisan Markus. Pengamatan standar terhadap teks ini ialah bahwa panggilan murid itu disampaikan di tengah kesibukan orang bekerja. Ini bisa dimengerti sebagai pemberian makna baru terhadap rutinitas kerja (bdk. kesucian kerja). Bagaimana itu dilakukan? Dengan mengganti objek pencarian: semula mencari ikan, sekarang mencari jiwa orang. Tujuannya beda: semula untuk survival, sekarang untuk jadi disciple. Tak cukuplah orang beriman berhenti pada survival dengan aneka materi yang dikumpulkannya. Ia mesti menggunakan propertinya itu untuk menguak kualitas kemuridannya.

Yang mengesan bagi saya hari ini ialah waktu panggilan murid pertama Yesus itu. Teks mengatakan bahwa Yesus mulai memanggil murid pertamanya setelah Yohanes Pemandi ditangkap, dipenjara. Kerajaan Allah tak pernah bisa dipenjara. Musuh Allah itu paling banter, kalau jadi pemain belakang dalam sepak bola, hanya berprinsip “bola boleh lewat, orangnya jangan” dan karena itu pemain lawan bisa dibuatnya patah tulang! Allah mungkin kejam juga ya terhadap pelayan-Nya: lu boleh penjara Yohanes, lu bunuh juga silakan, tapi Gw punya jagoan lain buat melanjutkan warta gembira. Ya, jagoan lain itu juga akhirnya dibunuh sih, tapi warta gembira juga gak berhenti setelah jagoan lain itu mati.

Muncul murid-murid yang berani meneruskan warta keselamatan itu dengan segala jatuh bangun mereka: yang datang belakangan memang tak selalu menyempurnakan yang datang duluan. Ini kelihatan dari sejarah Gereja, karena perkembangan iman tidak linear, tetapi dinamis sifatnya (bdk. tahap perkembangan iman). Akan tetapi, entah mana yang lebih sempurna, semua murid mesti tahu diri sebagai instrumen warta keselamatan.

Fokusnya bukan pada survival (ada tidaknya duit, banyak sedikitnya duit), tapi pada discipleship: bagaimana kesibukan sehari-hari bisa menjadi model warta gembira Allah bagi sesama… kemarin ada yang mau tanya pada koes plus: bagaimana sih caranya ‘hati senang walaupun tak punya uang’!


SENIN BIASA I B/1
Senin, 12 Januari 2015

Ibr 1,1-6
Mrk 1,4-20

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s