Ngaku Dosa… Apa Gunanya

Ini sebuah cerita yang pasti ada bumbunya, tetapi berdasarkan fakta yang teruji kebenarannya.

Konon, di sebuah bilik pengakuan, masuklah seorang anak usia kelas 6 SD yang langsung menatap imam di situ dan berkata,”Romo, saya tidak mau mengaku dosa.” Sang imam menanggapi pernyataan anak itu sambil tersenyum menahan tawa,”Loh, kenapa kamu ke sini kalau tidak mau mengaku dosa?”
Anak itu menjawab polos,”Saya disuruh Mama.”
“Oalah, ya sudah kalau kamu tidak mau mengaku dosa, silakan keluar saja lagi, akurapopo…”
Si anak menatap mata imam itu dan berbisik keras ala Sinchan,”Tapi Mama nunggu di luar.”
Hahaha…jebulnya dia dipantau oleh ibunya.
Si imam lalu menanyai anak itu,”Lha kamu sendiri kenapa tidak mau mengaku dosa, Nak?”
Dan mulailah anak itu menjelaskan alasannya. “Teman-teman saya itu jarang ikut kegiatan di gereja, mereka juga tidak ikut misdinar, tapi mereka itu anaknya baik-baik, rajin dan sering membantu orang lain. Saya disuruh Mama ikut misdinar dan rajin ke gereja, tetapi saya malah suka nakal dan malas belajar. Saya juga ngaku dosa tapi ternyata saya tidak jadi rajin dan baik seperti teman-teman saya.” *wah3…malah ngaku dosa deh jadinya…*
Imam itu mengangguk-angguk dan menyimpulkan,”Jadi menurut kamu pengakuan dosa itu untuk membuat diri kamu jadi lebih baik seperti teman-temanmu ya?”
Si anak mengangguk-angguk, dan imam menanyainya,”Siapa yang mengajarkan kamu soal itu?” “Guru agama saya,” jawab si anak. “Bilang sama guru agamamu ya bahwa beliau keliru!” Kata-kata ini tampaknya seperti petir menyambar penangkal petir dan menarik perhatian si anak.
Sang imam bertanya,”Apakah kamu masih ingat cerita mengenai Samuel kecil dan imam Eli?”
Sang anak rupanya memang seperti tersambar petir sungguhan, jadi diam mematung. Tetapi agaknya si imam mengerti bahwa anak ini tak ingat lagi kisah 1Sam 3,2-10 yang menceritakan bagaimana Samuel yang telah tertidur tiga kali dipanggil Tuhan dan tiga kali pula ia bergegas menghadap imam Eli, mengira bahwa imam Elilah yang memanggilnya. Kali ketiga imam Eli didatangi Samuel, mengertilah ia bahwa yang memanggil Samuel adalah Tuhan sendiri; lalu disuruhnyalah Samuel supaya kalau ia mendengar namanya dipanggil lagi ia menjawab,”Berbicaralah, Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar.”
Selesai sang imam memaparkan kisah panggilan Samuel itu, si anak masih juga belum berhenti mematung ala korban sambaran petir. “Nah, kamu datang ke sini bukan supaya besok kamu jadi rajin seperti temanmu. Kalau kamu mengaku dosa dan membangun niat supaya tidak melakukan dosa lagi, bukan berarti kamu bisa tenang-tenang karena roh jahat sudah pergi tak mengganggumu lagi.”
“Kalau begitu apa gunanya mengaku dosa, Romo?” akhirnya mematungnya selesai.
“Entah apa gunanya untukmu, Nak, tapi kalau kita datang mengaku dosa kepada imam, itu artinya kita membuka hati kepada Tuhan melalui perantaraan imam. Imam itulah yang membantu kamu melihat bagaimana Allah memanggilmu, seperti imam Eli tadi. Bersama imam kamu bisa menimbang-nimbang mana yang baik bagimu untuk dilakukan sebagai tanda pertobatanmu.”

Memang bisa jadi orang tersesat memahami Sakramen Tobat sebagai sebuah metode untuk memperbaiki kepribadian, padahal poinnya ialah supaya orang diperdamaikan dengan Allah, dengan hatinya sendiri, dengan keadaan sosial, dengan hidupnya.

Tentu orang bisa langsung omong,”Tuhan, maafkan aku telah korupsi” dan Tuhan tentulah maha pengampun; akan tetapi, dosa manusia tak pernah hanya bersifat privat, selalu ada dampak sosial sehingga Gereja menjadi institusi yang bisa membantu umatnya untuk melihat dimensi sosial tadi, dan mengupayakan supaya kerusakan jiwa yang ditimbulkan, sekurang-kurangnya, itu bisa diperbaiki.

Maka, pengakuan dosa memang bukan alat perbaikan kepribadian (sehingga tak perlu terbebani target bahwa setelah pengakuan dosa orang tidak lagi perfeksionis, misalnya) dan pengampunan tidak berarti juga menghapuskan akibat sosial yang ditimbulkan dosa. Sakramen Tobat pertama-tama adalah momen umat beriman membuka hatinya di hadapan Tuhan, dan setelah itu apa yang terjadi…. bergantung kerja sama orang itu dan Roh Kudus…

6 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s