Takut Dosa, Emang Perlu Gitu?

Dunia ini takut pada segala sesuatu kecuali dosa. Takut pencemaran lingkungan, polusi udara, takut kanker, takut perang nuklir, terorisme, dan sebagainya, tetapi gak takut perang dengan Allah Yang Mahakuasa, yang setelah membunuh orang, masih berkuasa untuk membuangnya ke dalam neraka (Luk 12,4-5).

Dampaknya luar biasa: mati rasa rohani, semacam anestesi spiritual. Ada “dosa pembiusan”. Orang tak lagi mengenali musuh sebenarnya yang memperbudak mereka karena perbudakan itu berlapis emas, status, jabatan, atau kekuasaan. Banyak orang omong soal dosa sih, tapi isinya persis anestesi spiritual itu: dosa direduksi dengan perkara-perkara teknis, yaitu aneka kesalahan yang berdampak moral buruk pada manusia.

Orang lebih peka pada kesalahan yang dampaknya menyentuh kenyamanan diri mereka daripada dosa yang pada pokoknya adalah cacat relasi dengan Tuhan. Maklum, boro-boro merasa berdosa, percaya Tuhan saja masih dianggap soal utak-atik-otak! Maka dari itu, orang lebih fokus untuk membebaskan diri dari dampak dosa daripada melawan dosanya sendiri. Orang hanya gelisah dengan ‘rasa bersalah’, tetapi tidak merasakan cacat relasinya dengan Tuhan.

Tak heran, orang pasti bingung dengan dogma Santa Perawan Maria dikandung tanpa noda dosa. Iki piye maksude, lha wong semua orang punya dosa asal?! Lagipula, siapa sih di dunia ini yang bisa lepas dari dosa struktural? Semua orang pasti terlibat di sana!

Persis di situlah problemnya, orang tak lagi melihat dosa pertama-tama dalam wilayah relasi vertikal, melainkan relasi horisontal dengan sesama. Kalaupun melihat dimensi vertikal itu, orang mengira dosa itu pertama-tama soal pelanggaran perintah Allah (padahal perintah itu dirumuskan oleh orang lain). Orang sulit memahaminya dalam kerangka ‘dari dalam’.

Dogma Maria dikandung tanpa noda kiranya menunjuk soal kesatuan tak bercela antara hidup SP Maria dengan proyek keselamatan Allah sendiri. Hidupnya selalu dalam track untuk merealisasikan proyek Allah itu. Ini yang jarang dilihat oleh orang yang sudah kenyang dengan anestesi rohani.

Dogma itu juga mengandung pesan yang sangat positif: Allah lebih kuat dari dosa dan di mana dosa berlimpah kasih karunia melimpah (Rm 5,20). Maria adalah tanda dan jaminannya. Seluruh Gereja, setelah dia, dipanggil untuk menjadi mulia, tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi kudus dan tak bercela(Ef 5,27). Dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium, menyatakan Santa Perawan Maria menjadi model kebajikan seluruh komunitas umat beriman dalam menaklukkan dosa (LG 65).

Pesan hari ini mengingatkan manusia bahwa ada satu hal yang benar-benar mencemari manusia dan itu adalah dosa. So, ngaku dosa aja deh!


HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA NODA
(Senin Adven II)
8 Desember 2014

Kej 3,9-15.20
Ef 1,3-6.11-12
Luk 1,26-38

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s