Tobatlah, Pak! Mau Sampai Kapan?

Kebanyakan pembaca blog ini, saya rada berani bertaruh, jika karakternya diidentifikasi seturut kisah anak yang hilang (klik di sini), bisa digolongkan dalam tipologi anak sulung: anak baik yang patuh pada orang tuanya, dan karena itu jengkel abis terhadap anak lain yang seenak-enaknya dan ternyata dibiarkan hidup!

Siapa yang tak jengkel pada orang yang seenak-enaknya membolak-balik fakta (untuk tidak menyebut nama jonru, misalnya, yang sewot abis karena nama yang dibuatnya sendiri)? Siapa yang tak sebel terhadap perusak ketentraman hidup banyak orang dan masih berani juga menyodorkan diri untuk jadi pemimpin? Njelehi tenan kok! Kita senang kalau orang culas itu mulai merasakan akibat kelicikannya: ketahuan belangnya, usahanya ancur di pasar saham, utangnya semakin besar, dan lain-lainnya. Pokoknya, biar tau rasa dah!

Berlawanan dengan itu, bacaan hari ini menggarisbawahi karakter Bapa yang baik hati, yang tak menginginkan kebinasaan atau kehancuran orang, apalagi mereka yang miskin, tersingkir, yang kalah dari pertarungan hidup. Tuhan menginginkan keselamatan; bahkan satu yang tersesat pun akan direngkuh-Nya supaya bisa join dengan yang sembilan puluh sembilan. Ia menawarkan jalan keselamatan itu, selalu, dan tanpa kompromi.

Tawaran keselamatan ini, ironisnya, oleh sebagian orang beragama malah ditafsirkan sedemikian rupa sehingga tawaran itu bersifat koersif, memaksa orang untuk begini begitu seturut penafsirnya. Tak heran, gambaran Allah yang disodorkan jadi tidak indah, tak elegan. Lagi-lagi, ini jadi fundamentalisme, yang hidup subur pada aneka agama. Jika perumpamaan mengenai gembala ini dimodifikasi, barangkali masuk juga di situ anak-anak gembala yang mau membangun pagar tinggi yang tak memberi celah bagi domba untuk keluar dari kawanan dan cari jalan sendiri!

Kenapa? Karena mencari domba sesat itu merepotkan! Daripada repot-repot, dah bikin aja pagar yang kokoh dan memaksa domba-domba itu tidak ke mana-mana, gak ada risiko kabur, gak perlu sabar, gak usah pikir njelimet, gak usah peduli!

Sebagai anak-anak dari gembala itu, orang beriman dipanggil untuk keluar dariruang suci’-nya yang mungkin kuno dan pengap untuk berbelas kasih pada domba yang tidak sungguh-sungguh ngerti siapa Allah itu. Alih-alih mengumbar kejengkelan dan kebencian terhadap mereka yang ngawur, kalau tidak bisa membantu mereka, sekurang-kurangnya ia bisa mendoakan pertobatan mereka. Gusti Allah tidak menginginkan kebinasaan manusia, melainkan pertobatan mereka, supaya mereka hidup.


SELASA ADVEN II
9 Desember 2014

Yes 40,1-11
Mat 18,12-14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s