Mana Berhalamu?

KAMIS PRAPASKA IV
3 April 2014

Kel 32,7-14
Belum lama umat Israel dibebaskan dari Mesir, belum lama juga mereka ‘menandatangani’ perjanjian dengan Allah, kok ternyata selama ditinggal Musa mereka membuat patung anak lembu emas dan menyembahnya: idolatri! Tuhan murka, tetapi Musa menjadi perantara yang membatalkan kemurkaan Tuhan itu.

Yoh 5,31-47
Yesus menambahkan penjelasan mengenai penyembuhan orang lumpuh pada hari Sabat dengan merujuk pada kesaksian Bapanya, kesaksian Yohanes Pembaptis, mukjizat-mukjizat dan tulisan Perjanjian Lama, tetapi juga mengkritik ketidakpercayaan orang-orang Yahudi.


Penyembahan patung anak lembu emas tentu adalah dosa ‘besar’. Akan tetapi, bahkan dosa ‘besar’ yang menyulut kemurkaan Allah ini pun bisa diampuni karena perantaraan Musa. Kristus menjalankan fungsi perantara, dan status-Nya dinyatakan oleh Bapa-Nya sendiri, juga oleh Yohanes Pembaptis, dan terlihat oleh publik juga aneka mukjizat yang menunjukkan kuasa-Nya sebagai nabi dan perantara manusia dan Allah. Sayangnya, tidak banyak orang percaya pada-Nya, sebagaimana bangsa Israel tidak banyak yang percaya pada Musa.

Ironis: dulu pada zaman Musa, bangsa Israel menginginkan Allah yang begitu dekat dengan keseharian hidup mereka, tetapi kedekatan itu melulu dipahami sebagai kedekatan fisik. Akibatnya, mereka tersesat: menciptakan ‘allah’ lain yang kasat mata. Setelah sekian lama, Allah beneran mendekati bangsa Israel dengan sosok yang kasat mata, tetapi malah mereka terpaku pada ideologi mereka sendiri mengenai Mesias. Akibatnya, mereka tetap tersesat juga. [Jadi Allah itu serba salah juga ya: kalau tidak menampakkan Diri kok tidak dipercaya karena tak ada bukti, kalau menampakkan Diri kok juga dipaido (tidak dipercaya) karena tak mungkin Allah jadi pribadi manusia (dari Nazaret pula)].

Manifestasi berhala pada zaman Musa adalah patung anak lembu emas, sedangkan pada zaman Yesus berhala itu adalah hukum (Sabat). Rupanya berhala tidaklah harus berupa benda konkret, tetapi juga benda abstrak, yaitu ideologi; dan tampaknya berhala ideologi ini jauh lebih destruktif justru karena membutakan mata hati manusia. Berhala jenis ini membuat orang tak mampu melihat sakramen sebagai tanda kelihatan dari rahmat yang tak kelihatan, orang tak mampu membaca yang tersirat.

Loh, apa patung anak lembu emas itu bukannya justru menunjukkan bahwa bangsa Israel mampu melihat sakramen sebagai tanda kelihatan dari rahmat yang tak terlihat itu? Jelas tidak, karena patung anak lembu emas lahir dari proyeksi kebutuhan infantil (kekanak-kanakan) mereka dan mata mereka terpaku pada bendanya sendiri. Itu sama halnya dengan mata orang-orang Farisi dan banyak orang Yahudi yang terpaku pada hukum Sabat.

Sakramen menggerakkan yang fisik untuk menggugah hati orang beriman. Maka tak ada banyak gunanya jika orang sibuk pada aneka bentuk puasa dan tobat, tetapi hatinya tak berfokus pada relasi pribadinya dengan Allah sendiri. Itulah gunanya berpikir secara sakramental: menangkap rahmat yang tak kelihatan dalam tanda yang kelihatan, dan ini pasti bukan cuma tujuh jumlahnya (meskipun Gereja Katolik mengakui tujuh sakramen). Orang yang berpikir sakramental menatap Allah dalam setiap peristiwa hidup yang dijalaninya. Tidak jelas? Punya waktu untuk membaca? Silakan klik link ini (bukan tulisan saya).

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s