Dekat di Mata, Jauh di Hati…

JUMAT PRAPASKA IV

Keb 2,1a.12-22
Yoh 7,1-2.10.25-30

Makin dekat tempat ibadat, makin jauhlah orang dari Tuhan. Orang-orang Yerusalem, tempat ibadat bangsa Yahudi, mengerti benar bahwa pemimpin mereka sudah punya rencana untuk membunuh Yesus. Tak mengherankan, Yesus pun ke Yerusalem secara diam-diam, tetapi anehnya, dia bisa leluasa berbicara di hadapan publik. Sebagian orang pun keheranan bahwa dia bisa bicara terang-terangan di depan publik. Bukankah Yesus ini yang mau dibunuh oleh pemimpin-pemimpin mereka? Jangan-jangan pemimpin mereka sudah bertobat dan tahu bahwa Yesus ini adalah Kristus!!!

Wah wah wah, jangan sampai deh! Bahkan kalau pemimpin kita mengakui Yesus ini Kristus, kita gak bisa menyetujuinya karena kita tahu dari mana asal Yesus ini. Bukankah jika Kristus datang, tak seorang pun tahu dari mana asal-Nya? Lha kita ini tahu Yesus dari mana, jadi pasti Yesus bukan Kristus itu! Cara berpikir itu tampaknya cocok dengan Kitab Suci mereka, tetapi Injil Yohanes menyodorkan catatan kritis yang diletakkan dalam mulut Yesus: dari mana asal fisik-Ku kamu memang tahu, tetapi kamu tidak mengenal Dia yang mengutus Aku.

Celakanya, sebagaimana diutarakan dalam bacaan pertama, orang-orang ini begitu bangga dengan pengetahuan mereka tentang Allah, tetapi sebetulnya mereka sesat karena telah dibutakan oleh kejahatan mereka. Mereka tidak tahu akan rahasia-rahasia Allah sementara yakin akan ganjaran kesucian mereka. Ini juga merupakan ironi: secara fisik mereka melihat, tetapi secara batiniah mereka tidak mengerti apa-apa.

Begitulah, orang terpaku pada bentuk kesucian, pada apa yang formal, tetapi tidak sampai menyelami hati, tidak masuk dalam pokok persoalan, dan orang ini kehilangan ‘nyawa’-nya. Tak mengherankan, orang studi teologi malah jauh dari Tuhan; orang jadi imam, malah melakukan kejahatan yang lebih keji daripada yang bisa dibayangkan orang; orang rajin berdoa, tetapi malah hidupnya gak karuan; orang berpuasa tetapi mulutnya penuh kata-kata pedas. Itu terjadi ketika orang hanya memperhatikan hal-hal yang dangkal dan tidak mau masuk di kedalaman hati.

Barangkali benar: tinggal makin dekat tempat ibadat, malah makin jauh dari Tuhan (karena berpuas diri dengan jarak fisik: saudaraku pastor kok, teman dekatku uskup kok, pacarku orang Vatikan kok, aku sering bantu parkir umat kok, aku bantu tata tertib kok…tapi malah hatinya tak pernah berdoa, tak terpaut pada Allah).

Categories: Daily Reflection

Tagged as: , , , ,

3 replies

  1. Saya Percaya Tuhan, tapi Tiada Tuhan selain Allah SWT. Tuhan yang tidak beranak dan diperanakan…. Nabi Adam saja yang gak ada orangtuanya tidak dianggap Tuhan, apalagi Isa.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s