Conspiracy against “J…..”

SABTU PRAPASKA IV

Yer 11,18-20
Yoh 7,40-53


Kebakaran jenggot memang bisa bikin pemimpin atau penguasa kelihatan bodoh. Hati sebagian besar imam kepala dan orang Farisi semakin mengeras dan terlihat konspirasi mereka untuk melawan nabi.
Yeremia menuturkan awal kesusahannya; kesusahan yang muncul karena Anatoth, imam-jahat di kotanya. Ia dan orang-orangnya punya konspirasi untuk menyingkirkan Yeremia, dan Yeremia nan lugu tak mengerti konspirasi itu sebelum Allah sendiri menyatakannya melalui suatu penglihatan. Mengetahui hal itu, ia mengungkapkan permohonannya: semoga keadilan Allahlah yang membalasnya.

Tidak seperti Yeremia, Kristus sudah mencium adanya konspirasi terhadap diri-Nya, tetapi rupanya konspirasi itu belum tertata rapi sehingga malah muncul perseteruan di antara mereka sendiri: penjaga, orang kebanyakan, imam kepala, dan kaum Farisi. Yesus menjadi sumber perbantahan di antara mereka yang tak percaya. Ya itu tadi, para pemimpin agama kebakaran jenggot dan rasionalisasi mereka benar-benar memalukan alias menjijikkan. Mereka menganggap orang yang mengikuti Yesus adalah orang-orang yang gak dhonk, gak paham hukum (dan terkutuklah mereka itu). Padahal di antara orang yang ‘membela’ Yesus itu ada Nikodemus juga.

Argumentasi Nikodemus yang objektif pun bahkan mereka sangkal karena kekerasan hati mereka, dan keliatan deh bodohnya. Ini asumsi-asumsi yang mereka punya:

  • Mereka kira Yesus berasal dari Galilea. Kayaknya keliru deh.
  • Mereka juga pikir murid-murid Yesus adalah orang-orang Galilea. Yesus punyalah pengikut dari Yudea.
  • Mereka begitu yakin bahwa tidak ada nabi yang asalnya dari Galilea. Sepertinya, Yunus dan Nahum dari sana ya.

Lha, asumsi dasarnya aja keliru, argumentasinya mestilah sesat. Lebih parahnya, mereka gak mau dengar omongan Nikodemus (yang adalah anggota kelompok mereka sendiri). Penjaga yang mereka anggap tak menjalankan tugas konspirasi itu pun tak memberi efek positif bagi mereka untuk bertobat. Ini alamat buruk. Memang pertobatan pada pokoknya keluar dari hati, tetapi kalau orang tidak mau mendengarkan rasio, bagaimana ia tahu hatinya sesat atau tidak?

Semakin lama semakin lucu-lucu menggemaskan tindak-tanduk konspirasi dan rasionalisasi mereka. Keadaan ini tak hanya berlaku dalam ranah politik sekarang, tetapi juga dalam dunia mikro setiap individu, bukan?

pasti-lagi-baca-berita-politik-komik

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s