Yakin Percaya Tuhan?

Mana yang lebih Anda sukai: pakaian bermerk atau mannequin-nya? Mana yang lebih menarik perhatian Anda: gaun yang dipamerkan dalam fashion show atau model yang memamerkannya? Jawaban pertanyaan pertama mungkin lebih mudah. Jawaban pertanyaan kedua barangkali bisa membantu mengevaluasi bagaimana kita beriman. Silakan jawab sendiri di penghujung refleksi nanti.

Kalau Anda tak percaya bahwa Allah menjadi manusia, dan konsekuen dengan itu, Anda juga tak percaya bahwa Allah menjadi sebuah kitab suci: sesuci apa pun kitab itu. Entah kitab suci, entah pribadi manusia, mereka itu merupakan medium bagi Allah untuk menghadirkan Diri dan jelaslah bahwa Allah jauh lebih besar dari media itu.

Orang-orang di Yerusalem mulai ragu-ragu dengan rumor yang mereka dengar tentang Yesus. Sudah ada rencana untuk membunuhnya tetapi, yang membingungkan mereka, kok waktu dia muncul di Yerusalem tak ada gejala-gejala orang mau menghabisinya? Orang-orang ini malah berspekulasi: jangan-jangan para pemimpin agama mereka itu sudah ngerti bahwa memang dialah Mesias yang dinantikan itu!

Akan tetapi, kalau dia Mesias, itu gak cocok dengan yang ditunjukkan Kitab Suci. Menurut Kitab Suci, tak seorang pun tahu dari mana Mesias itu datang. Lha ini semua orang tahu dari mana Yesus datang. Jadi, gak mungkinlah dia itu Mesias! Masuk akal, tetapi mereka lupa bahwa Allah gak sesimple itu, meskipun lain waktu Dia juga bisa sesimple itu. Lha wong namanya juga Allah, terserah Dia toh mau simple atau enggak. Itu mengapa manusia mudah tertipu.

Dalam sejarah Agama Kristen juga sempat muncul gerakan yang menyangkal kinerja Allah melalui tradisi yang tak tertulis dalam Kitab Suci. Ada istilah yang dikenal dengan sola fide, sola scriptura, sola gratia: hanya karena iman, hanya karena Kitab Suci, dan hanya karena rahmat (manusia jadi selamat). Sebetulnya Kitab Suci, rahmat, dan iman itu memang menjadi medium penyelamatan Allah. Akan tetapi, kata ‘hanya’ itu menyesatkan, dan de facto dalam sejarah membuat perpecahan sehingga sekelompok orang memisahkan diri dari Gereja Katolik (yang memang saat itu jelas bobrok karena muatan politis dan lain-lainnya).

Memang Gereja Katolik meyakini bahwa perwahyuan publik sudah berakhir dengan wafatnya rasul terakhir, tetapi itu sama sekali tidak menghentikan kerja Roh Allah sendiri. Allah tetap bekerja melalui aneka media, dan kerjaan-Nya itu bisa ditangkap justru karena roh yang senantiasa bersemayam dalam hati orang. Maka, orang beriman senantiasa memerlukan bantuan Roh untuk memahami entah Kitab Suci, pribadi, atau semesta yang menjadi media bagi Allah sendiri.

Poinnya bukan gaun yang tampak (Kitab Suci, Yesus orang Nazaret, Buddha, apalagi tempat ibadat), melainkan aktor di balik gaun itu. Untuk sebuah fashion show, tentu gaunnya lebih diutamakan meskipun modelnya juga penting dan lebih manusiawi daripada mannequin, tetapi sayangnya…. hidup beriman bukanlah fashion show.


HARI JUMAT PRAPASKA IV
20 Maret 2015

Keb 2,1a.12-22
Yoh 7,1-2.10.25-30

Posting Tahun Lalu: Dekat di Mata Jauh di Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s